Roda sapi pada waktu aku kecil, ini adalah alat yang sering aku pakai untuk angkut buah kelapa yang akan dijadikan kopra.
Monday, November 21, 2011
Wednesday, November 9, 2011
Renungan
Jika hari ini engkau merindukan sesuatu terjadi atas dirimu, ketahuilah Tuhan Yesus telah menyediakan keselamatan kekal bagimu.
PELAYANAN HARUS TERUS BERJALAN (KPR 1:15-26)
Pada saat pertama
kali Tuhan Yesus memilih murid-murid-Nya, tujuan-Nya adalah agar mereka menjadi
penjala manusia (Mat. 4:19). Mereka harus menjadi orang-orang yang memberitakan
injil agar manusia percaya bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat.
Mereka menerima tugas untuk menyampaikan kepada seluruh manusia apa yang
dikehendaki Tuhan. Pada saat itu Tuhan Yesus tidak menjanjikan kesenangan hidup
di dunia ini melainkan pahala yang akan mereka terima ketika Tuhan Yesus
menyatakan diri-Nya sebagai raja diatas segala raja. Dengan tegas Tuhan Yesus
menyatakan bahwa menjadi pengikut-Nya berarti tidak memiliki tempat untuk
meletakkan kepala (Mat. 8:20) dan harus
memikul salib (Mat. 16:24). Itu berarti menjadi pengikut Tuhan bukan mendapatkan
sesuatu di dalam dunia ini melainkan harus melakukan apa yang Tuhan Yesus
kehendaki tanpa memperhitungkan untung rugi.
Murid-murid Tuhan
mengerti apa yang harus mereka lakukan sehingga mereka dengan setia berjalan
bersama Tuhan ketika Tuhan Yesus berkeliling mengajar dan melakukan
mujizat-mujizat di antara orang Israel. Mereka tidak menghadapi hambatan karena mereka
selalu bersama Tuhan Yesus. Mereka menikmati hidup bersama Tuhan Yesus dan
menikmati semua pengajaran-Nya. Tetapi ketika Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia
harus menderita dan akan mati dibunuh oleh para pemimpin Israel, beberapa murid
mulai goyah. Mereka tidak dapat menerima Guru dan Tuhan mereka akan menderita
apalagi mati dibunuh. Petrus berusaha
mencegahnya tetapi Tuhan Yesus menegurnya dengan keras (Mat. 16:23). Bahkan
Yohanes dan Yakobus menggunakan kesempatan itu untuk meminta agar jika Tuhan
menjadi raja kelak, mereka berdua dapat ditempatkan sebagai orang yang duduk di
sebelah kanan dan di sebelah kiri Tuhan
Yesus (Mar. 10:37).
Yang lebih parah
lagi adalah sikap Yudas Iskariot. Ketika Tuhan menyatakan bahwa Dia akan menderita
dan akan dibunuh oleh tua-tua atau pemimpin Israel, Yudas dengan segera
bertindak menghubungi para pemimpin untuk menjual Tuhannya seharga 30 keping
perak. Yudas tidak mau rugi. Dia tidak peduli lagi pada Tuhannya.
Akibat dari perbuatannya ini Yudas bukan hanya tidak dapat menikmati
uang hasil penjualan Tuhannya melainkan akhirnya dia mengakhiri hidupnya dengan
cara yang sangat memalukan. Dia mati menggantung diri dan akhirnya jatuh tertelungkup dan perutnya terbelah
sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar.
Sekarang Tuhan Yesus telah naik ke surga dan berjanji akan datang
kembali. Yudas sudah tidak ada lagi tetapi pelayanan para murid harus terus
berjalan. Apa yang harus mereka lakukan? Mereka harus menentukan orang yang
akan menggantikan Yudas. Tetapi untuk menentukan tersebut mereka harus mencari
orang yang senantiasa berkumpul dengan mereka selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari
Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Mereka juga adalah saksi dari kebangkitan Tuhan
Yesus. Jadi syarat yang sangat penting untuk menjadi seorang yang melayani
Tuhan bersama dengan murid-murid yang lain adalah bahwa orang tersebut harus
menjadi saksi atau harus menyampaikan kepada semua orang bahwa Tuhan Yesus
telah bangkit dari kematian.
Setelah mereka berdoa dan memohon petunjuk Tuhan akhirnya yang terpilih
untuk menggantikan Yudas adalah Matias. Mereka dapat menentukan Matias karena
Matias adalah orang yang selama ini telah bersama dengan mereka dalam pelayanan.
Tetapi yang paling penting dari itu semua adalah bahwa Tuhanlah yang telah
menentukan Matias menggantikan Yudas untuk menggenapi anggota para rasul agar
mereka tetap berjumlah duabelas orang. Ini penting karena Tuhan sendiri yang
telah memilih mereka dan kepada mereka Tuhan telah menjanjikan bahwa pada waktu
Dia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya maka mereka yang dua belas orang
tersebut akan duduk di atas duabelas takhta untuk menghakimi dua belas suku
Israel (Mat. 19:28).
Matias dipilih untuk melanjutkan pelayanan karena pelayanan adalah
milik Tuhan dan Tuhan menentukan bahwa pelayanan harus selalu dijalankan oleh orang-orang
yang telah dan akan ditentukan-Nya. Matias sendiri tidak dapat menolak apa yang
telah ditentukan Tuhan. Dia siap melayani dan itu berarti dia siap berkorban
untuk memuliakan Tuhan. Dia mengerti bahwa jika Tuhan telah menentukan untuk
menjadi bagian dalam pelayanan maka dia harus melayani. Dalam pelayanan ini dia
memang menggantikan posisi Yudas tetapi dia harus berbeda dengan Yudas yang mengabaikan
Tuhan. Dia tidak sama dengan Yudas yang ingin mendapatkan sesuatu dari
pelayanan. Dia mengerti bahwa dalam pelayanan ini dia harus berkorban bahkan
pasti akan menderita karena penolakkan pemimpin orang Yahudi dan orang-orang
tidak percaya lainnya. Tetapi dia telah siap.
Melayani Tuhan bukan untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan karena
sebelum melayani Tuhan setiap orang percaya telah mendapatkan sesuatu dari
Tuhan terutama keselamatan yang telah diberikan secara cuma-cuma oleh
pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Melayani Tuhan berarti memberikan
sesuatu kepada Tuhan sebagai tanda penyembahan dan hormat atas kebesaran dan
kuasa Tuhan. Memang apa yang diberikan kepada Tuhan tidaklah sebanding dengan
apa yang telah Tuhan berikan kepada setiap orang percaya tetapi selama orang
percaya hidup dalam dunia ini, dia harus melayani Tuhan. melayani berarti
mengasihi Tuhan dan menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya raja dalam hidup
orang percaya.
Yudas telah menerima akibat dari semua perbuatannya, karena selama
berjalan dengan Tuhan dia tidak memiliki motivasi yang benar. Tetapi kegagalan
Yudas tidak akan membuat tugas pelayanan berhenti karena pelayanan tidak pernah
akan gagal. Pelayanan adalah milik Tuhan. Tuhan selalu akan menentukan orang
lain yang harus meneruskan tugas pelayanan. Alkitab telah membuktikan bagaimana
pelayanan terus berjalan demikian juga dengan sejarah gereja yang membuktika
sampai hari ini orang peraya tidak dapat berhenti melayani Tuhan. Alkitab tetap
ada dan gereja tetap ada itu berarti orang yang melayani Tuhan harus tetap ada.
Semoga kita adalah orang-orang yang akan terus melayani Tuhan dalam situasi apapun. Tuhanlah
yang berkuasa atas hidup kita. Terpujilah Dia.
Kesaksian
Di Sini Ada Airmata
Suatu pagi dia melihat anak sulungnya yang sedang remaja bersujud di samping tempat tidur sambil menangis. Dia mengira anaknya sedang menggodanya, karena sejak kecil anaknya jarang sekali menunjukkan diri sedang bersedih. Almarhum suaminya sering mengatakan kepada anaknya bahwa seorang laki-laki tidak harus mengeluarkan airmata, karena bagi seorang laki-laki airmata harus diganti dengan keringat.
Tetapi kali ini dia melihat anaknya membenamkan wajahnya di kasur dengan ratap yang menggetarkan hati. Dia ingin menanyakannya tetapi dia ragu jangan-jangan ini hanya sebuah lelucon seperti yang sering dilakukan anaknya ketika menggodanya. Maka ganti bertanya, dia menggunakan ujung sapu menepuk punggung anaknya. Sekali tepukan anaknya tidak bereaksi maka dia kembali menepuknya dengan tepukan yang lebih keras. Ketika anaknya berpaling, dia melihat derai airmata yang deras mengalir di pipi anaknya.
Naluri keibuannya bereaksi memeluk anaknya, “Mengapa kamu menangis?” Anaknya balas memeluknya, “Ma, maafkan aku. Aku belum bisa mengantikan airmata dengan keringat. Aku malu.” Dia menghapus airmata anaknya, “Papa tidak pernah bermaksud mengatakan bahwa kamu tidak boleh menangis. Papa hanya mau kamu tidak menjadi laki-laki yang cengeng, dan seorang laki-laki harus berkeringat seperti yang Alkitab katakan, bukan? Tetapi apa hanya karena itu kamu menangis?”
Anaknya menggelengkan kepala. “Selama ini aku memikirkan apa yang Alkitab katakan tentang kasih Tuhan Yesus. Dia menangis tetapi tidak menangis karena diri-Nya. Dia menangis karena manusia tidak memahami pengorbanan-Nya dan tidak bertobat. Dia juga berkeringat bahkan keringatnya menitik seperti darah. Mengapa saya sering menyedihkan hati-Nya dan hati mama serta adik-adik?”
“Hari ini dengan tulus aku meminta Tuhan Yesus tinggal dalam hatiku dan menjadi Juruselamatku. Aku memohonnya dengan sangat. Aku ingin berkeringat melayani-Nya. Bukankah Mama pernah mendoakan agar aku menjadi hamba Tuhan?”
Mendengar kata-kata anaknya, dia menjadi yakin bahwa tidak mungkin anaknya menangis jika tidak ada sesuatu yang luar biasa. Dan ternyata itu adalah karena anaknya telah memahami arti dari kasih Tuhan Yesus. Kali ini airmata sukacitanya yang menetes.
Marah Artinya Sayang
Melihat semangatnya ke sekolah, selalu menimbulkan senyuman di wajah kedua orang tuanya. Mereka teringat ketika pertama kali dia ke sekolah, ketika itu dia begitu tersiksa dengan suasana sekolah yang rasanya asing baginya. Dia harus ditemani ibunya dan tidak mau terpisah sedetikpun.
Sekarang dia benar-benar bangga dengan sekolahnya. Kebanggaan ini menjadikan dia lebih mengutamakan apa yang dikatakan oleh gurunya daripada apa yang dikatakan oleh orangtuanya. Dalam hubungan dengan pelajaran sekolahnya jika yang diajarkan di rumah tidak sama dengan apa yang diajarkan oleh gurunya pasti akan ada argumentasi dari mulutnya.
Suatu ketika dia sakit. Dia sedih dan jengkel. Kerinduan akan sekolahnya membuat dia mencoba mengabaikan rasa sakitnya tetapi dia tidak mampu. Dia terbaring sambil menangis bukan karena sakit tetapi karena tidak dapat ke sekolah.
Saat dia sembuh, keceriaan kembali mewarnai harinya. “Tadi di sekolah Ade (sebutan untuk dirinya) pimpin doa di depan kelas”. Matanya berbinar saat menceritakan apa yang dia lakukan. “Ade juga diajar, kalau orang tua marah itu artinya orang tua sayang. Papa sama Mama kan suka marahain Ade ya? Berarti Papa sama Mama, sayang sama Ade. Soalnya marah orang tua itu artinya sayang”
Beberapa hari kemudian saat keluarganya akan melaksanakan doa malam, dia merengek. “Papa sama mama kok nggak marah-marah sama Ade lagi? Ayo dong, marahin Ade. Kalau nggak dimarahin nanti Ade sedih”.
Anak TK lugu dan lucu ini memberikan pelajaran tentang hubungan orang percaya dengan Tuhannya dan dengan persekutuan. Kebanggaan akan sekolahnya seharusnya sama dengan kebanggaan orang percaya akan persekutuannya. Dan permintaannya untuk dimarahin adalah pengertiannya bahwa marahnya orang tua adalah kasih yang disertai disiplin. Dia tidak merindukan kemarahan yang membabi buta, tetapi yang dirindukannya adalah kasih yang selalu menjaga dia dari pelanggaran.
Tidak heran jika Tuhan mengutamakan dan menggunakan anak-anak kecil dalam memberikan gambaran tentang hidup beriman. Mereka menerima sesuatu yang diajarkan dengan tulus dan mempraktekkannya dari hati mereka. Apakah orang dewasa akan marah karena pelajaran ini? (AnDia)
Subscribe to:
Posts (Atom)
