Thursday, June 12, 2014

Tuhan Membawaku Sampai Di sini



            Sebagai seorang remaja putri dan anak seorang janda miskin yang tinggal di desa, saya memiliki angan yang selalu saya pendam dalam hati saya. Saya begitu rindu menjejakkan kaki saya di ibu kota negara saya. Sampai pada suatu hari keinginan itu nyaris terlaksana. Saya diajak oleh seseorang untuk jalan-jalan ke ibu kota, tetapi saat itu orang tua dan kakak saya melarang saya.
            Saat itu saya sangat frustasi. Saya merasa mereka tidak memahami saya dan telah menghancurkan harapan saya. Saya ingin berontak tetapi saya sangat mengasihi keluarga saya sehingga saya menerima semuanya dengan tulus. Bagi saya mereka adalah segalanya.
            Seorang teman kakak saya yang adalah seorang hamba Tuhan menghibur saya. “Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita, maka tidak mungkin Dia akan membiarkan kita. Jika Dia menghendaki maka suatu hari engkau akan tiba di tempat yang engkau dambakan.” Kata-katanya sangat kuat menghibur saya. ‘Jika Tuhan menghendaki’, ya!
            Hari ini setelah 26 tahun, kata-kata hamba Tuhan itu tergenapi. Tuhan telah membawa saya ke tempat yang dulu saya angankan. Dia bahkan telah membawa saya jauh ke beberapa negara yang tidak pernah bahkan tidak berani saya angankan.
            Hari ini saya menikmati kata-kata yang saya anggap seperti suatu nubuat sekalipun saya tahu itu bukan nubuat seperti yang dimaksudkan Alkitab. Hari ini saya dapat bercengkerama dengan  kakak saya seperti yang pernah kami lakukan di desa puluhan tahun lalu. Hanya bedanya kami bercengkerama bukan di desa kami tetapi di ibukota negara saya.
            Dan yang luar biasa adalah kami juga bercengkerama dengan hamba Tuhan yang dulu mengatakan kepada saya bahwa ‘Jika Tuhan menghendaki saya akan tiba di tempat dimana saya dambakan’.  Tuhan telah membawaku ke sini. Dia melakukannya dengan begitu indah. Dia melakukan tanpa memberi saya tanda-tanda bahwa apa yang saya dambakan akan terlaksana. Dia melakukannya karena memang hanya Dia yang dapat melakukannya.
            Saya begitu bangga menikmati kebaikan Tuhan bagi  saya. Secara manusia hal ini tidak mungkin terjadi. Mungkin bagi orang lain ini adalah hal biasa tetapi bagi saya ini mujizat. Tidak ada satupun yang dapat saya lakukan untuk mewujudkan angan-angan saya. Ini adalah salah satu mujizat terbesar dalam hidup saya. (Noni)       

Ternyata Dia Menangis Juga



        Sejak kecil dia selalu malas mengeluarkan suara untuk bicara sesuatu yang dia anggap tidak perlu atau untuk sesuatu yang dirasanya orang lain sudah mengetahuinya. Dia memang pendiam tetapi dia selalu tersenyum kepada siapa saja walaupun dengan sikap malu-malu. Sifatnya selalu menjadikan dia sebagai pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya.
            Ketika ibunya tetrbaring sakit, seperti biasanya dia kelihatan tenang dan tidak banyak bicara. Dipandanginya ibunya seakan tanpa berkedip sambil sesekali membelai jemari ibunya yang keriput dimakan usia. Dadanya yang bidang terlihat kuat membungkus hatinya yang susah ditangkap artinya. Dia memang kuat melawan tekanan fisik dan rasanya belum pernah dia mengeluarkan rintihan atau keluhan sehingga pada saat ini tidak ada orang yang akan mengira dia terluka. Orang-orang disekitarnya berpikir bahwa kalaupun dia terluka dia pasti akan mampu mengatasinya.
            Saat ibunya menatapnya dan seolah berkata, “Ibu sakit...apakah engkau merasakannya?” Dia membuang muka, tak berani beradu pandang dengan ibunya. Tak lama kemudian dia beringsut ke arah kaki ibunya, membuang nafas sarat dan berat. Matanya memerah tetapi tidak menangis. Memang sejak kecil jika dia menangis, dia akan dengan segera menghapus airmatanya. Sepertinya dia tidak rela pipinya disentuh airmata. Baginya airmata cukup dimata saja tidak perlu mengalir ke tempat lain.
            Saudara-saudaranya yang melihat ibunya sekarat, tak digubrisnya. Tak pernah dia menyapa mereka yang sama-sama sedih melihat ibu mereka. Dia tetap dengan dunianya sendiri, menghitung duka atau menata perasaan yang berkecamuk di dalam batinnya sendiri. Kalaupun dia disapa, dia hanya diam tanpa ekspresi. Di sinilah orang tahu bahwa sebenarnya dia gundah, dia sedih, dia sepi di antara orang-orang yang dikasihinya.
            Saat nafas ibunya melemah dan makin lemah, dia mendekat memeluk ibunya dengan cintanya. Rasanya dia ingin memberikan kekuatan kepada ibunya. Rasanya dia ingin ibunya bangkit membalas pelukannya, tetapi semuanya tidak terjadi. Ibunya sekarat dipelukannya dan saudara-saudaranya. Lalu ibunya diam dalam damai, tidak ada lagi kehidupan sementara. Ibunya telah beralih ke dalam kehidupan kekal yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesusnya.
            Tiba-tiba dia berdiri, wajahnya dipenuhi rasa sakit dan airmata. Dia menangis. Ternyata dia tidak dapat menahan sakit ketika sang ibu melangkah ke kekekalan. Ternyata dia tidak dapat ditinggalkan oleh orang yang telah membawanya ke dalam dunia. Dia hanyalah seonggok otot yang kekar tetapi bukan seonggok kekuatan berpisah dengan orang yang telah mengajarinya kasih Tuhan. Dia hanyalah seorang anak yang berduka ditinggal sang ibu (Thenten).

Rasa Sakit Itu



Ketika mamanya yang adalah orang yang paling dikasihi terbaring lemah dipembaringan karena sakit, rasa di hatinya adalah kesedihan yang menusuk sangat pahit. Selama 24 tahun dia dicintai dan menerima begitu banyak penerangan dari bintang-bintang nasehat dan pelajaran tentang kehidupan. Karena cinta yang ada padanya adalah cinta yang diterimanya dari orang yang telah melahirkan, membesarkan dan yang mengajarinya melangkahkan kaki di kehidupan yang dia hidupi sekarang ini.
Masih segar di ingatannya saat orang yang sangat dicintainya ini membacakan ayat-ayat Alkitab bila dia bangun menyambut hari baru setelah semalaman ditemani cahaya lembut lampu teplok yang menempel di dinding gubuk mereka. Dia ingat alunan kata-kata indah saat orang yang dikasihinya mengaminkan jaminan Tuhan dalam hidup yang sedang mereka jalani. Rasanya hari itu adalah hari dimana Tuhan yang dia cintai berada dekat sekali dengannya bahkan seakan membelai ubun-ubunnya. Dia seolah sedang dipeluk oleh tangan yang kuat tapi penuh kelembutan. Dipeluk oleh janji dan jaminan yang tidak pernah berubah.
Dan ketika orang yang dikasihinya merintih menahan sakit yang dideritanya, hatinya masih teringat akan tangan kuat yang selalu memeluk mereka. Tangan itu pasti masih ada di sini di hidup orang yang dikasihinya dan tetap lembut menjamah, membelai dan memberikan kesejukan. Dia yakin tangan yang penuh kuasa itu tidak pernah beranjak sekalipun hari ini sakit di hidupnya mengurung sangat rapat.
Di telinga orang yang dikasihinya dia berbisik dengan pertanyaan lembut, ”Apakah mama merasa sangat sakit?” Orang yang dikasihinya memalingkan wajah ke arahnya dan tersenyum manis. “Kita selalu berada dalam kesakitan sehingga kesakitan tidak dapat lagi menyakiti kita. Selama ini kesakitan tidak dapat mengubah apapun karena kesakitan dalam hidup kita selalu ada akhirnya. Mungkin selama ini kesakitan telah menjadi sahabat bahkan mungkin telah menjadi diri kita sendiri dan diri kita akan berakhir di dunia tetapi tidak di ruang yang Tuhan sediakan bagi kita.”
Di peluknya orang yang dikasihinya, “Tetapi apakah mama merasakan kesakitan itu saat ini?” Orang yang dikasihinya balas memeluknya, “Kesakitan ini membawa mama kepada Tuhan Yesus yang mengalahkan kesakitan dan mama tidak menyesal. Mama tidak mau beranjak dari sini, karena inilah saatnya menikmati kenikmatan yang Tuhan Yesus janjikan selama hidup mama. Dari sini Mama akan berada dalam kekekalan yang damai tiada tara bersama Tuhan Yesus kita. Dia selalu mengasihi kita. 
Dan dia pun meneteskan airmata. (Thenten)

Melayani Karena Telah Dilayani



            Saya anak bungsu dari lima bersaudara. Pada umur 3 tahun saya telah menatapi dunia tanpa orang ayah yang telah menghadap Tuhan sebelum saya mengenal dirinya. Banyak kali       saya iri melihat teman-teman saya bermain bersama ayah mereka. Tetapi dibalik itu saya mendapat penghiburan dari ibu saya karena beliau adalah seorang pelayan Tuhan. Dia sangat patuh pada Tuhannya dan mengajari saya dan kakak-kakak saya untuk mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Dia begitu bangga memiliki Tuhan Yesus dan selalu mengatakan kepada kami bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihi kami.
            Selain ibu, saya juga bangga dengan kakak saya yang sulung. Banyak orang mengatakan bahwa kakak saya sangat mirip dengan ayah saya. Saya senang melihat foto ayah dan membandingkan dengan kakak saya yang saya anggap adalah pengganti ayah saya. Tetapi ketika kakak saya beranjak remaja, keadaannya berubah total. Dia suka bergaul dengan anak-anak yang tidak beres, bahkan dia menjadi pemimpin mereka. Hal ini sangat menyakiti ibu dan kakak-kakak saya yang lain. Kebanggaan saya terhadap kakak saya mulai luntur, tetapi ibu saya selalu mendorong saya untuk tetap berdoa bagi kakak saya.
            Pada suatu saat saya melihat kakak saya berubah dan setiap kali dia berbicara dengan teman-temannya kata yang selalu terlontar adalah “lahir baru”. Saya sangat ingin memahami apa artinya, tetapi saya belum cukup mampu mencernanya dengan otak saya karena saat itu saya baru duduk di kelas 3 SD. Sampai pada suatu hari teman-teman kakak saya mengadakan pelayanan bagi anak-anak yang mereka namakan Pelayanan Pondok Gembira. Saya senang sekali karena mereka menceritakan Kasih Tuhan Yesus kepada orang berdosa dengan menggunakan alat peraga yang menarik.
Pelayanan ini membuat saya mengerti apa artinya lahir baru yang sering dikatakan kakak saya dan teman-temannya. Saya mengetahui bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat dari ibu saya, tetapi saya meyakini akan keselamatan kekal di dalam Tuhan Yesus justru pada saat saya mengikuti Pondok Gembira.
Saat saya duduk di bangku SLTP saya mengajak teman-teman sebaya saya melayani Tuhan melalui Pondok Gembira. Saya rindu anak-anak kecil juga mengalami seperti apa yang sudah saya alami. Saya menyadari kebesaran Tuhan yang telah memanggil ayah saya dan meninggalkan ibu saya agar Dia menjadi ayah saya yang sempurna. Tuhan sangat baik, bukan karena saya telah mendengarnya tetapi karena saya telah mengalaminya.
Sampai hari ini saya telah bertekad dalam keterbatasan saya bahwa sisa hidup akan saya gunakan melayani Tuhan karena saya telah dilayani. Saya ingin menjadi seperti teman-teman kakak saya yang telah membentuk pelayanan untuk anak-anak dan yang telah membuat saya berhutang kepada mereka.(Anita)

Berkat Dari Tuhan

(Ratapan 3:22-23)


Pada saat-saat ini setiap orang percaya selalu ingin menikmati berkat Tuhan karena berkat Tuhan selalu dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan pantas dinikmati untuk kepuasan diri sendiri. Atau ada juga untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa Tuhan memperhatikan kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya jika orang percaya tidak menerima berkat yang menyenangkan dirinya, maka hal itu dianggap telah terjadi suatu kesalahan dalam hidupnya. Dia merasa ada yang salah dalam dirinya atau ada yang salah dalam kehendak Tuhan sehingga dia tida meneria seperti yang orang lain terima.
Kitab Ratapan memberikan pelajaran tentang arti berkat Tuhan bagi orang percaya. Dalam kitab ini, nabi Yeremia yang adalah penulis kitab ini menyatakan suatu keyakinan akan janji Tuhan bahwa rahmat Tuhan tidak pernah berkesudahan, selalu baru setiap pagi bersama kesetiaan-Nya. Ini adalah keyakinan yang sangat luar biasa.
Keyakinan Yeremia dalam kitab Ratapan ini adalah bagian yang menjadi keyakinan orang percaya pada saat ini. Orang percaya meyakini ini karena sangat berharap akan rahmat atau berkat Tuhan dapat dinikmatinya setiap hari agar dia tidak menderita. Jadi sebenarnya orang percaya bukan meyakini janji Tuhan tetapi berharap agar janji tersebut dapat dinikmatinya.
Pada hal jika belajar dari apa yang dialami Yeremia pada saat dia menyatakan keyakinan yang disampaikannya maka terdapat perbedaan yang sangat jauh dengan apa yang dipahami orang percaya pada saat ini. Pada saat Yeremia menyatakan harapan dan keyakinannya tersebut dia dan bangsanya Israel sedang berada dalam tekanan dan penderitaan. Saat itu segala penderitaan tertimpa padanya dan bangsanya dan dia tahu bahwa semua itu berasal dari Tuhan Allah akibat dari ketidaktaatan mereka kepada-Nya. Dia merasa Tuhan Allah sedang menghukum mereka dan seakan tidak mempedulikan mereka, tetapi di saat seperti itu dia yakin bahwa berkat Tuhan tidak mungkin berhenti.
Tuhan pernah berjanji akan memberkati bangsa Israel dan dia yakin bahwa janji tersebut tidak pernah akan berubah. Penderitaan akan berubah, tetapi janji Tuhan tidak akan berubah. Itu alasannya mengapa dia percaya bahwa rahmat Tuhan selalu baru setiap pagi.
Orang percaya seharusnya memiliki keyakinan ini, bahwa berkat Tuhan selalu tersedia sekalipun orang percaya sedang berada dalam tekanan atau penderitaan. Bahkan seperti pernyataan Paulus bahwa  penderitaanpun adalah karunia atau berkat Tuhan yang menarik orang percaya untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan (Fil.1:29).
Orang percaya tidak perlu takut mengarungi kehidupan karena pasti rahmat Tuhan selalu baru dan kesetiaan-Nya tidak berkesudahan. Tuhan sendiri memberikan jaminan bagi orang percaya bahwa rambut di kepalapun terhitung jumlahnya (Mat. 10:30). Maksudnya adalah Tuhan tahu semua hal dalam hidup kita dan Dia tidak pernah berhenti memperhatikan kita.
Berkat yang dari Tuhan seharusnya mengingatkan kita bahwa kita adalah milik Tuhan dan selain Tuhan, tidak ada yang memperhatikan hidup kita. Kita pasti tidak dapat membayangkan jika Tuhan tidak memberkati kita. Kita juga pasti tidak ingin menjadi orang yang diabaikan oleh Tuhan. Itu sebabnya jika kita menderita sedikit saja maka kita akan segera memohon pertolongan Tuhan agar penderitaan kita segera berakhir.
Sebenarnya kita adalah orang yang selalu tahu bahwa pertolongan kepada kita datangnya hanya dari Tuhan dan itu adalah hal terbaik yang kita miliki. Di dalam diri kita Tuhan menaruh satu kerinduan akan Dia. Tuhan sendiri yang membuat kita selalu mengingat dan membutuhkan Dia. Itu sebabnya kita tahu bahwa kita sangat membutuhkan Tuhan dan tidak mau jauh dari Tuhan terutama jika kita mengalami masalah dalam hidup kita.
Jika kita membutuhkan Tuhan, apakah Tuhan akan mengabaikan kita? Apakah Tuhan tidak peduli kepada kita? Dia sangat peduli sehingga berkatnya tidak pernah berkesudahan. Kita saja yang tidak memperhatikan berkat-Nya sehingga tidak bersyukur kepada-Nya. Kita Tetapi hari ini kita semua bersyukur kepada Tuhan karena kita mengerti bahwa Dia memperhatikan kita.
Berkat terbesar dan yang tidak pernah dapat dibalas dengan ucapan syukur sekalipun adalah ketika Dia menyerahkan Anak-Nya yang kekasih, datang ke dunia untuk mati demi menebus segala dosa kita. Itu hanya dilakukan sekali untuk selama-lamanya tetapi itu adalah berkat baru setiap hari. Artinya setiap orang yang percaya kepada-Nya adalah orang yang dibarui setiap hari. Orang yang diubah dari hamba dosa menjadi anak-anak-Nya dan Dia tinggal di dalam hidup orang percaya (1 Kor.3:16).
Hari ini, marilah kita menikmati berkat Tuhan karena Dia selalu baik  kepada kita semua. Dia bahkan tidak hanya memberikan berkat setiap hari tetapi Dia memberikan sorga bagi setiap orang yang percaya. Sorga tidak dapat hanya dinikmati hari ini tetapi dinikmati dalam kekekalan bersama Tuhan Yesus.