Tuesday, June 24, 2014
Thursday, June 12, 2014
Tuhan Membawaku Sampai Di sini
Sebagai seorang remaja
putri dan anak seorang janda miskin yang tinggal di desa, saya memiliki angan
yang selalu saya pendam dalam hati saya. Saya begitu rindu menjejakkan kaki
saya di ibu kota negara saya. Sampai pada suatu hari keinginan itu nyaris
terlaksana. Saya diajak oleh seseorang untuk jalan-jalan ke ibu kota, tetapi
saat itu orang tua dan kakak saya melarang saya.
Saat itu saya sangat
frustasi. Saya merasa mereka tidak memahami saya dan telah menghancurkan
harapan saya. Saya ingin berontak tetapi saya sangat mengasihi keluarga saya
sehingga saya menerima semuanya dengan tulus. Bagi saya mereka adalah segalanya.
Seorang teman kakak saya
yang adalah seorang hamba Tuhan menghibur saya. “Tuhan Yesus telah
menyelamatkan kita, maka tidak mungkin Dia akan membiarkan kita. Jika Dia
menghendaki maka suatu hari engkau akan tiba di tempat yang engkau dambakan.”
Kata-katanya sangat kuat menghibur saya. ‘Jika Tuhan menghendaki’, ya!
Hari ini setelah 26 tahun,
kata-kata hamba Tuhan itu tergenapi. Tuhan telah membawa saya ke tempat yang
dulu saya angankan. Dia bahkan telah membawa saya jauh ke beberapa negara yang
tidak pernah bahkan tidak berani saya angankan.
Hari ini saya menikmati
kata-kata yang saya anggap seperti suatu nubuat sekalipun saya tahu itu bukan
nubuat seperti yang dimaksudkan Alkitab. Hari ini saya dapat bercengkerama
dengan kakak saya seperti yang pernah
kami lakukan di desa puluhan tahun lalu. Hanya bedanya kami bercengkerama bukan
di desa kami tetapi di ibukota negara saya.
Dan yang luar biasa adalah
kami juga bercengkerama dengan hamba Tuhan yang dulu mengatakan kepada saya
bahwa ‘Jika Tuhan menghendaki saya akan tiba di tempat dimana saya
dambakan’. Tuhan telah membawaku ke
sini. Dia melakukannya dengan begitu indah. Dia melakukan tanpa memberi saya
tanda-tanda bahwa apa yang saya dambakan akan terlaksana. Dia melakukannya
karena memang hanya Dia yang dapat melakukannya.
Saya begitu bangga
menikmati kebaikan Tuhan bagi saya.
Secara manusia hal ini tidak mungkin terjadi. Mungkin bagi orang lain ini
adalah hal biasa tetapi bagi saya ini mujizat. Tidak ada satupun yang dapat
saya lakukan untuk mewujudkan angan-angan saya. Ini adalah salah satu mujizat
terbesar dalam hidup saya. (Noni)
Ternyata Dia Menangis Juga
Sejak kecil dia selalu malas mengeluarkan suara
untuk bicara sesuatu yang dia anggap tidak perlu atau untuk sesuatu yang
dirasanya orang lain sudah mengetahuinya. Dia memang pendiam tetapi dia selalu
tersenyum kepada siapa saja walaupun dengan sikap malu-malu. Sifatnya selalu
menjadikan
dia sebagai pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya.
Ketika ibunya tetrbaring
sakit, seperti biasanya dia kelihatan tenang dan tidak banyak bicara.
Dipandanginya ibunya seakan tanpa berkedip sambil sesekali membelai jemari
ibunya yang keriput dimakan usia. Dadanya yang bidang terlihat kuat membungkus
hatinya yang susah ditangkap artinya. Dia memang kuat melawan tekanan fisik dan
rasanya belum pernah dia mengeluarkan rintihan atau keluhan sehingga pada saat ini
tidak ada orang yang akan mengira dia terluka. Orang-orang disekitarnya
berpikir bahwa kalaupun dia terluka dia pasti akan mampu mengatasinya.
Saat ibunya menatapnya dan
seolah berkata, “Ibu sakit...apakah engkau merasakannya?” Dia membuang muka,
tak berani beradu pandang dengan ibunya. Tak lama kemudian dia beringsut ke
arah kaki ibunya, membuang nafas sarat dan berat. Matanya memerah tetapi tidak
menangis. Memang sejak kecil jika dia menangis, dia akan dengan segera
menghapus airmatanya. Sepertinya dia tidak rela pipinya disentuh airmata.
Baginya airmata cukup dimata saja tidak perlu mengalir ke tempat lain.
Saudara-saudaranya yang
melihat ibunya sekarat, tak digubrisnya. Tak pernah dia menyapa mereka yang
sama-sama sedih melihat ibu mereka. Dia tetap dengan dunianya sendiri,
menghitung duka atau menata perasaan yang berkecamuk di dalam batinnya sendiri.
Kalaupun dia disapa, dia hanya diam tanpa ekspresi. Di sinilah orang tahu bahwa
sebenarnya dia gundah, dia sedih, dia sepi di antara orang-orang yang
dikasihinya.
Saat nafas ibunya melemah
dan makin lemah, dia mendekat memeluk ibunya dengan cintanya. Rasanya dia ingin
memberikan kekuatan kepada ibunya. Rasanya dia ingin ibunya bangkit membalas
pelukannya, tetapi semuanya tidak terjadi. Ibunya sekarat dipelukannya dan
saudara-saudaranya. Lalu ibunya diam dalam damai, tidak ada lagi kehidupan
sementara. Ibunya telah beralih ke dalam kehidupan kekal yang hanya dapat
dinikmati oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesusnya.
Tiba-tiba dia berdiri,
wajahnya dipenuhi rasa sakit dan airmata. Dia menangis. Ternyata dia tidak
dapat menahan sakit ketika sang ibu melangkah ke kekekalan. Ternyata dia tidak
dapat ditinggalkan oleh orang yang telah membawanya ke dalam dunia. Dia
hanyalah seonggok otot yang kekar tetapi bukan seonggok kekuatan berpisah
dengan orang yang telah mengajarinya kasih Tuhan. Dia hanyalah seorang anak
yang berduka ditinggal sang ibu (Thenten).
Rasa Sakit Itu
Ketika mamanya yang adalah
orang yang paling
dikasihi terbaring lemah
dipembaringan karena sakit, rasa di hatinya adalah kesedihan yang menusuk
sangat pahit. Selama 24 tahun dia dicintai dan menerima begitu banyak penerangan
dari bintang-bintang nasehat dan pelajaran tentang kehidupan. Karena cinta yang
ada padanya adalah cinta yang diterimanya dari orang yang telah melahirkan,
membesarkan dan yang mengajarinya melangkahkan kaki di kehidupan yang dia
hidupi sekarang ini.
Masih segar di ingatannya saat orang yang sangat
dicintainya ini membacakan ayat-ayat Alkitab bila dia bangun menyambut hari
baru setelah semalaman ditemani cahaya lembut lampu teplok yang menempel di
dinding gubuk mereka. Dia ingat alunan kata-kata indah saat orang yang
dikasihinya mengaminkan jaminan Tuhan dalam hidup yang sedang mereka jalani.
Rasanya hari itu adalah hari dimana Tuhan yang dia cintai berada dekat sekali
dengannya bahkan seakan membelai ubun-ubunnya. Dia seolah sedang dipeluk oleh tangan
yang kuat tapi penuh kelembutan. Dipeluk oleh janji dan jaminan yang tidak
pernah berubah.
Dan ketika orang yang dikasihinya merintih menahan
sakit yang dideritanya, hatinya masih teringat akan tangan kuat yang selalu
memeluk mereka. Tangan itu pasti masih ada di sini di hidup orang yang
dikasihinya dan tetap lembut menjamah, membelai dan memberikan kesejukan. Dia
yakin tangan yang penuh kuasa itu tidak pernah beranjak sekalipun hari ini
sakit di hidupnya mengurung sangat rapat.
Di telinga orang yang dikasihinya dia berbisik
dengan pertanyaan lembut, ”Apakah mama merasa sangat sakit?” Orang yang
dikasihinya memalingkan wajah ke arahnya dan tersenyum manis. “Kita selalu
berada dalam kesakitan sehingga kesakitan tidak dapat lagi menyakiti kita.
Selama ini kesakitan tidak dapat mengubah apapun karena kesakitan dalam hidup
kita selalu ada akhirnya. Mungkin selama ini kesakitan telah menjadi sahabat
bahkan mungkin telah menjadi diri kita sendiri dan diri kita akan berakhir di
dunia tetapi tidak di ruang yang Tuhan sediakan bagi kita.”
Di peluknya orang yang dikasihinya, “Tetapi apakah
mama merasakan kesakitan itu saat ini?” Orang yang dikasihinya balas
memeluknya, “Kesakitan ini membawa mama kepada Tuhan
Yesus yang mengalahkan kesakitan dan
mama tidak menyesal. Mama tidak mau beranjak dari sini, karena inilah saatnya
menikmati kenikmatan yang Tuhan Yesus janjikan selama hidup mama. Dari sini Mama akan berada dalam kekekalan yang damai tiada tara
bersama Tuhan Yesus kita. Dia selalu mengasihi kita.”
Dan dia pun meneteskan airmata. (Thenten)
Melayani Karena Telah Dilayani
Saya anak bungsu dari lima
bersaudara. Pada umur 3 tahun saya telah menatapi dunia tanpa orang ayah yang
telah menghadap Tuhan sebelum saya mengenal dirinya. Banyak kali saya iri melihat teman-teman saya
bermain bersama ayah mereka. Tetapi dibalik itu saya mendapat penghiburan dari
ibu saya karena beliau adalah seorang pelayan Tuhan. Dia sangat patuh pada Tuhannya
dan mengajari saya dan kakak-kakak saya untuk mengandalkan Tuhan dalam segala
hal. Dia begitu bangga memiliki Tuhan Yesus dan selalu mengatakan kepada kami
bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihi kami.
Selain ibu, saya juga
bangga dengan kakak saya yang sulung. Banyak orang mengatakan bahwa kakak saya
sangat mirip dengan ayah saya. Saya senang melihat foto ayah dan membandingkan
dengan kakak saya yang saya anggap adalah pengganti ayah saya. Tetapi ketika
kakak saya beranjak remaja, keadaannya berubah total. Dia suka bergaul dengan
anak-anak yang tidak beres, bahkan dia menjadi pemimpin mereka. Hal ini sangat
menyakiti ibu dan kakak-kakak saya yang lain. Kebanggaan saya terhadap kakak
saya mulai luntur, tetapi ibu saya selalu mendorong saya untuk tetap berdoa
bagi kakak saya.
Pada suatu saat saya
melihat kakak saya berubah dan setiap kali dia berbicara dengan teman-temannya
kata yang selalu terlontar adalah “lahir baru”. Saya sangat ingin memahami apa
artinya, tetapi saya belum cukup mampu mencernanya dengan otak saya karena saat
itu saya baru duduk di kelas 3 SD. Sampai pada suatu hari teman-teman kakak
saya mengadakan pelayanan bagi anak-anak yang mereka namakan Pelayanan Pondok
Gembira. Saya senang sekali karena mereka menceritakan Kasih Tuhan Yesus kepada
orang berdosa dengan menggunakan alat peraga yang menarik.
Pelayanan ini membuat saya mengerti apa artinya
lahir baru yang sering dikatakan kakak saya dan teman-temannya. Saya mengetahui
bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat dari ibu saya, tetapi saya meyakini akan
keselamatan kekal di dalam Tuhan Yesus justru pada saat saya mengikuti Pondok
Gembira.
Saat saya duduk di bangku SLTP saya mengajak
teman-teman sebaya saya melayani Tuhan melalui Pondok Gembira. Saya rindu
anak-anak kecil juga mengalami seperti apa yang sudah saya alami. Saya menyadari
kebesaran Tuhan yang telah memanggil ayah saya dan meninggalkan ibu saya agar
Dia menjadi ayah saya yang sempurna. Tuhan sangat baik, bukan karena saya telah
mendengarnya tetapi karena saya telah mengalaminya.
Sampai hari ini saya telah bertekad dalam
keterbatasan saya bahwa sisa hidup akan saya gunakan melayani Tuhan karena saya
telah dilayani. Saya ingin menjadi seperti teman-teman kakak saya yang telah
membentuk pelayanan untuk anak-anak dan yang telah membuat saya berhutang
kepada mereka.(Anita)
Berkat Dari Tuhan
(Ratapan 3:22-23)
Pada saat-saat ini setiap orang percaya
selalu ingin menikmati berkat Tuhan karena berkat Tuhan selalu dianggap sebagai
sesuatu yang menyenangkan dan pantas dinikmati untuk kepuasan diri sendiri.
Atau ada juga untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa Tuhan memperhatikan
kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya jika orang percaya tidak menerima
berkat yang menyenangkan dirinya, maka hal itu dianggap telah terjadi suatu kesalahan
dalam hidupnya. Dia merasa ada yang salah dalam dirinya atau ada yang salah
dalam kehendak Tuhan sehingga dia tida meneria seperti yang orang lain terima.
Kitab Ratapan memberikan pelajaran tentang
arti berkat Tuhan bagi orang percaya. Dalam kitab ini, nabi Yeremia yang adalah
penulis kitab ini menyatakan suatu keyakinan akan janji Tuhan bahwa rahmat
Tuhan tidak pernah berkesudahan, selalu baru setiap pagi bersama kesetiaan-Nya.
Ini adalah keyakinan yang sangat luar biasa.
Keyakinan Yeremia dalam kitab Ratapan ini
adalah bagian yang menjadi keyakinan orang percaya pada saat ini. Orang percaya
meyakini ini karena sangat berharap akan rahmat atau berkat Tuhan dapat
dinikmatinya setiap hari agar dia tidak menderita. Jadi sebenarnya orang
percaya bukan meyakini janji Tuhan tetapi berharap agar janji tersebut dapat
dinikmatinya.
Pada hal jika belajar dari apa yang dialami
Yeremia pada saat dia menyatakan keyakinan yang disampaikannya maka terdapat
perbedaan yang sangat jauh dengan apa yang dipahami orang percaya pada saat
ini. Pada saat Yeremia menyatakan harapan dan keyakinannya tersebut dia dan
bangsanya Israel sedang berada dalam tekanan dan penderitaan. Saat itu segala
penderitaan tertimpa padanya dan bangsanya dan dia tahu bahwa semua itu berasal
dari Tuhan Allah akibat dari ketidaktaatan mereka
kepada-Nya. Dia merasa Tuhan Allah sedang menghukum mereka dan seakan tidak mempedulikan
mereka, tetapi di saat seperti itu dia yakin bahwa berkat Tuhan tidak mungkin
berhenti.
Tuhan pernah berjanji akan memberkati
bangsa Israel dan dia yakin bahwa janji tersebut tidak pernah akan berubah.
Penderitaan akan berubah, tetapi janji Tuhan tidak akan berubah. Itu alasannya
mengapa dia percaya bahwa rahmat Tuhan selalu baru setiap pagi.
Orang percaya seharusnya memiliki keyakinan
ini, bahwa berkat Tuhan selalu tersedia sekalipun orang percaya sedang berada
dalam tekanan atau penderitaan. Bahkan seperti pernyataan Paulus bahwa penderitaanpun adalah karunia atau berkat
Tuhan yang menarik orang percaya untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan (Fil.1:29).
Orang percaya tidak perlu takut mengarungi
kehidupan karena pasti rahmat Tuhan selalu baru dan kesetiaan-Nya tidak
berkesudahan. Tuhan sendiri memberikan jaminan bagi orang percaya bahwa rambut
di kepalapun terhitung jumlahnya (Mat. 10:30). Maksudnya adalah Tuhan tahu
semua hal dalam hidup kita dan Dia tidak pernah berhenti memperhatikan kita.
Berkat yang dari Tuhan seharusnya
mengingatkan kita bahwa kita adalah milik Tuhan dan selain Tuhan, tidak ada
yang memperhatikan hidup kita. Kita pasti tidak dapat membayangkan jika Tuhan
tidak memberkati kita. Kita juga pasti tidak ingin menjadi orang yang diabaikan
oleh Tuhan. Itu sebabnya jika kita menderita sedikit saja maka kita akan segera
memohon pertolongan Tuhan agar penderitaan kita segera berakhir.
Sebenarnya kita adalah orang yang selalu
tahu bahwa pertolongan kepada kita datangnya hanya dari Tuhan dan itu adalah
hal terbaik yang kita miliki. Di dalam diri kita Tuhan menaruh satu kerinduan
akan Dia. Tuhan sendiri yang membuat kita selalu mengingat dan membutuhkan Dia.
Itu sebabnya kita tahu bahwa kita sangat membutuhkan Tuhan dan tidak mau jauh
dari Tuhan terutama jika kita mengalami masalah dalam hidup kita.
Jika kita membutuhkan Tuhan, apakah Tuhan
akan mengabaikan kita? Apakah Tuhan tidak peduli kepada kita? Dia sangat peduli
sehingga berkatnya tidak pernah berkesudahan. Kita saja yang tidak
memperhatikan berkat-Nya sehingga tidak bersyukur kepada-Nya. Kita Tetapi hari
ini kita semua bersyukur kepada Tuhan karena kita mengerti bahwa Dia
memperhatikan kita.
Berkat terbesar dan yang tidak pernah dapat
dibalas dengan ucapan syukur sekalipun adalah ketika Dia menyerahkan Anak-Nya
yang kekasih, datang ke dunia untuk mati demi menebus segala dosa kita. Itu
hanya dilakukan sekali untuk selama-lamanya tetapi itu adalah berkat baru
setiap hari. Artinya setiap orang yang percaya kepada-Nya adalah orang yang
dibarui setiap hari. Orang yang diubah dari hamba dosa menjadi anak-anak-Nya
dan Dia tinggal di dalam hidup orang percaya (1 Kor.3:16).
Hari ini, marilah kita menikmati berkat
Tuhan karena Dia selalu baik kepada kita
semua. Dia bahkan tidak hanya memberikan berkat setiap hari tetapi Dia
memberikan sorga bagi setiap orang yang percaya. Sorga tidak dapat hanya
dinikmati hari ini tetapi dinikmati dalam kekekalan bersama Tuhan Yesus.
Subscribe to:
Posts (Atom)










