Wednesday, November 9, 2011

Kesaksian


Di Sini Ada Airmata
             Suatu pagi dia melihat anak sulungnya yang sedang remaja bersujud di samping tempat tidur sambil menangis. Dia mengira anaknya sedang menggodanya, karena sejak kecil anaknya jarang sekali menunjukkan diri sedang bersedih. Almarhum suaminya sering mengatakan kepada anaknya bahwa seorang laki-laki tidak harus mengeluarkan airmata, karena bagi seorang laki-laki airmata harus diganti dengan keringat.
Tetapi kali ini dia melihat anaknya membenamkan wajahnya di kasur dengan ratap yang menggetarkan hati. Dia ingin menanyakannya tetapi dia ragu jangan-jangan ini hanya sebuah lelucon seperti yang sering dilakukan anaknya ketika menggodanya. Maka ganti bertanya, dia menggunakan ujung sapu menepuk punggung anaknya. Sekali tepukan anaknya tidak bereaksi maka dia kembali menepuknya dengan tepukan yang lebih keras. Ketika anaknya berpaling, dia melihat derai airmata yang deras mengalir di pipi anaknya.
            Naluri keibuannya bereaksi memeluk anaknya, “Mengapa kamu menangis?” Anaknya balas memeluknya, “Ma, maafkan aku. Aku belum bisa mengantikan airmata dengan keringat. Aku malu.” Dia menghapus airmata anaknya, “Papa tidak pernah bermaksud mengatakan bahwa kamu tidak boleh menangis. Papa hanya mau kamu tidak menjadi laki-laki yang cengeng, dan seorang laki-laki harus berkeringat seperti yang Alkitab katakan, bukan? Tetapi apa hanya karena itu kamu menangis?”
            Anaknya menggelengkan kepala. “Selama ini aku memikirkan apa yang Alkitab katakan tentang kasih Tuhan Yesus. Dia menangis tetapi tidak menangis karena diri-Nya. Dia menangis karena manusia tidak memahami pengorbanan-Nya dan tidak bertobat. Dia juga berkeringat bahkan keringatnya menitik seperti darah. Mengapa saya sering menyedihkan hati-Nya dan hati mama serta adik-adik?”
 “Hari ini dengan tulus aku meminta Tuhan Yesus tinggal dalam hatiku dan menjadi Juruselamatku. Aku memohonnya dengan  sangat. Aku ingin berkeringat melayani-Nya. Bukankah Mama pernah mendoakan agar aku menjadi hamba Tuhan?”
Mendengar kata-kata anaknya, dia menjadi yakin bahwa tidak mungkin anaknya menangis jika tidak ada sesuatu yang luar biasa. Dan ternyata itu adalah karena anaknya telah memahami arti dari kasih Tuhan Yesus. Kali ini airmata sukacitanya yang menetes. 


Marah Artinya Sayang


            Melihat semangatnya ke sekolah, selalu menimbulkan senyuman di wajah kedua orang tuanya. Mereka teringat ketika pertama kali dia ke sekolah, ketika itu dia begitu tersiksa dengan suasana sekolah yang rasanya asing baginya. Dia harus ditemani ibunya dan tidak mau terpisah sedetikpun.
Sekarang dia benar-benar bangga dengan sekolahnya. Kebanggaan ini menjadikan dia lebih mengutamakan apa yang dikatakan oleh gurunya daripada apa yang dikatakan oleh orangtuanya. Dalam hubungan dengan pelajaran sekolahnya jika yang diajarkan di rumah tidak sama dengan apa yang diajarkan oleh gurunya pasti akan ada argumentasi dari mulutnya.
            Suatu ketika dia sakit. Dia sedih dan jengkel. Kerinduan akan sekolahnya membuat dia mencoba mengabaikan rasa sakitnya tetapi dia tidak mampu. Dia terbaring sambil menangis bukan karena sakit tetapi karena tidak dapat ke sekolah.
            Saat dia sembuh, keceriaan kembali mewarnai harinya. “Tadi di sekolah Ade (sebutan untuk dirinya) pimpin doa di depan kelas”. Matanya berbinar saat menceritakan apa yang dia lakukan. “Ade juga diajar, kalau orang tua marah itu artinya orang tua sayang. Papa sama Mama kan suka marahain Ade ya? Berarti Papa sama Mama, sayang sama Ade. Soalnya marah orang tua itu artinya sayang”
            Beberapa hari kemudian saat keluarganya akan melaksanakan doa malam, dia merengek. “Papa sama mama kok nggak marah-marah sama Ade lagi? Ayo dong, marahin Ade. Kalau nggak dimarahin nanti Ade sedih”.
            Anak TK lugu dan lucu ini memberikan pelajaran tentang hubungan orang percaya dengan Tuhannya dan dengan persekutuan. Kebanggaan akan sekolahnya seharusnya sama dengan kebanggaan orang percaya akan persekutuannya. Dan permintaannya untuk dimarahin adalah pengertiannya bahwa marahnya orang tua adalah kasih yang disertai disiplin. Dia tidak merindukan kemarahan yang membabi buta, tetapi yang dirindukannya adalah kasih yang selalu menjaga dia dari pelanggaran.
            Tidak heran jika Tuhan mengutamakan dan menggunakan anak-anak kecil dalam memberikan gambaran tentang hidup beriman. Mereka menerima sesuatu yang diajarkan dengan tulus dan mempraktekkannya dari hati mereka. Apakah orang dewasa akan marah  karena pelajaran ini? (AnDia)

No comments:

Post a Comment