Monday, September 8, 2014

Adik Terkasih


            Dia berdiri di bawah tiang penopang lampu pengatur lalulintas sambil mengendong adiknya yang kira-kira berusia setahun. Sesekali diciumi adiknya dengan gemas sambil menggoyang-goyangkan plastik bekas pembungkus permen yang berisi uang recehan pemberian orang-orang yang iba melihatnya. Dia tersenyum gembira ketika adiknya menggeliat mencoba menggapai uang tersebut.
            Ketika lampu merah menyala, dia mendekati sebuah mobil mewah yang berhenti sambil menyanyikan sebuah lagu pop dengan suara falsnya. Tetapi orang yang ada di dalam mobil tidak bereaksi sampai mobil tersebut bergerak meninggalkan dia dan adiknya. 
Sambil membetulkan posisi gendongannya, kembali diciumnya adiknya seolah dia menunjukkan bahwa dia tidak peduli ketika orang lain tidak peduli pada apa yang telah dan sedang dilakukannya. Dia tidak kelihatan sedih ketika orang-orang mengabaikannya karena dia hanya peduli kepada adiknya yang manja dalam gendongannya.
“Apa kamu tidak capek menggendong adikmu? Apa kamu tidak takut adikmu sakit? Memangnya orang tua kamu kemana?” Demikian pertanyaan yang selalu didengarnya, seolah peduli dan mengasihinya.
Memang dia adalah salah satu orang dari begitu banyak orang yang mencari rejeki dengan cara membuat orang lain terharu melihat adik kecilnya. Rasanya dia sedang melakukan dosa penipuan atau apalah namanya, tetapi sebenarnya dia sedang memberi pelajaran kepada banyak orang tentang salah satu bagian dari apa yang dinamakan kasih.
Orang tuanya tidak mengasihi dia dan adiknya sehingga membiarkan dia berada di jalanan menjadi peminta-minta. Orang yang bermobil mewahpun tidak mengasihinya ketika dia menghampiri mereka. Mereka berbuat seolah dia adalah kotoran yang harus dijauhi. Demikian juga dengan orang-orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Tetapi dia begitu mengasihi adiknya. Dia mengendongnya dan menciuminya ketika orang lain tidak peduli kepadanya. Dia membawanya bukan sebagai beban tetapi sebagai sesuatu yang dikasihinya dan menjadi temannya dimanapun dia berada. Adiknya adalah penghiburannya.
            Dan tanpa sadar dia yang baru berusia kira-kira sembilan tahun telah berhasil menitikkan air mata seorang hamba Tuhan yang malu dan merasa hina ketika menatapnya dari kejauhan. 

Siapa Yang Lebih Hebat?

           Setiap kali bepergian dengan menggunakan bus kota banyak kali saya berjumpa dengan pengamen-pengamen cilik yang tampil apa adanya, khas anak-anak. Jika ada kesempatan saya juga sering berbincang dengan mereka tentang apa yang sedang mereka lakukan bahkan apa yang mendorong mereka melakukan hal tersebut. Biasanya jawaban mereka adalah jawaban yang standar yaitu untuk biaya sekolah.
            Hari ini pun saya berjumpa dengan seorang pengamen cilik. Saya tidak sempat melihatnya menyanyi atau melakukan sesuatu yang biasa saya temukan. Saat saya duduk dibangku paling belakang (tempat biasa saya gunakan untuk berbincang dengan pengamen) saya melihat seorang pengamen cilik lagi tertunduk diam dihadapan seorang ibu yang kelihatannya terpelajar.
            Sepintas saya mendengar suara ibu tersebut menggurui sang pengamen cilik. “Kamu jangan ngamen lagi, mendingan kamu sekolah atau bantu orang tua di rumah. Kalau kamu ngamen, kamu akan terbiasa dengan duit dan kamu akan keenakan”.
            Saya beringsut mendekati sang pengamen cilik sampil menepuk pundaknya. Si ibu menatapi saya, “Pak, anak-anak seperti ini sulit sekali berubah dari jalanan ke kehidupan normal. Mereka sudah terbiasa dengan duit. Saat dewasa, mereka biasanya menjadi preman-preman yang
meresahkan orang lain. Makanya saya bilang ke dia agar sekolah atau bantu orang tua di rumah saja.” Saya tersenyum mendengar ceramahnya.
            Kemudian ceramah berlanjut berupa kesaksian. “Anak-anak sekarang memang sulit. Mereka maunya yang enak-enak saja. Anak saya juga nggak mau bantu saya meskipun hanya untuk pekerjaan rumah. Mereka hanya mau duit, dan bersantai-santai. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka di masa depan.”
            Saya memegang tangan sang pengamen cilik dan berbisik, “Kamu masih sekolah?” Dia mengangguk, “Setelah ini saya pulang untuk sekolah” Saya tersentuh, “Kamu lebih hebat dari orang-orang dalam bus ini jika kamu ngamen untuk bantu orang tua dan untuk biaya sekolah. Ada orang  sekolah dibiayai oleh orang tua mereka tetapi kamu biayai diri sendiri.” Dia menatap
saya, “Saya lebih hebat dari mereka? Masak sih?”
             Saya merangkul bahunya, “Iya. Kalau kamu tetap sekolah, kamu akan tahu bahwa kamu hebat. Tuhan Yesus yang saya percaya mengasihimu.” 

Pantaskah Membenci?

Saya termasuk anak yang tidak begitu baik di antara teman-teman sebaya saya sehingga beberapa orang tua melarang anak-anak mereka bergaul dengan saya. Tidak jarang saya dikata-katai di depan orang karena kelakuan saya. Anehnya saya tidak pernah merasa harus menangggapi atau marah kepada mereka. Saya merasa tidak perlu mempedulikan mereka bahkan saya menganggap mereka tidak ada.
Ketika saya lahir baru karena saya menerima pengampunan dari Tuhan Yesus, saya berjanji akan memberitakan injil anugerah Allah pertama-tama kepada orang terdekat saya. Tetapi ternyata semua tidak berjalan seperti yang saya bayangkan. Saya tetap ditolak.
Karena saya selalu membicarakan kasih Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab, maka saya selalu mendengar kata-kata,
“Awas... Farisi modern lewat.”
Awalnya saya tidak mengubris mereka, tetapi lama-kelamaan saya menjadi tidak sabar. Saya menjadi benci dan marah. Saya merasa mereka harus diberitahu bahwa saya telah berubah dan menjadi orang yang beriman yang dijamin Tuhan Yesus. Saya merasa tidak merugikan orang ketika saya menyampaikan kabar baik. Mengapa saya masih dimusuhi juga?
Suatu hari saya menghadiri ibadah di rumah satu keluarga. Karena Pendeta yang harusnya melayani tidak hadir maka untuk mengisi khotbah, salah seorang yang sering menyebut saya sebagai Farisi modern atau nabi palsu mengisinya dengan membacakan bagian dari buku Renungan Harian. Saya berpikir dia akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang saya.
Renungan yang dibacanya berbicara tentang seorang nabi yang ditolak dari antara saudaranya. Saya tidak begitu peduli karena saya tahu saya bukan seorang nabi. Tetapi setelah selesai membacakan renungannya orang tersebut datang memeluk saya dengan air mata berlinang memohon maaf kepada saya. Saya bingung melihat apa yang terjadi, apalagi ketika beberapa orang juga turut meminta maaf.
             Saat itu saya merasa amat bersalah karena mereka tidak tahu bahwa sebenarnya saya mulai membenci mereka. Tuhan menegur saya dan menunjukkan bahwa jika sebelum lahir baru saya bisa menerima orang yang mengabaikan saya, mengapa sekarang tidak? Saya belajar bahwa mereka harus dikasihi dan jika saya membenci maka itu berarti saya lebih jahat dari saat saya belum lahir baru. 

Sebelum Mata Tertutup Selamanya

Saya menyapanya dengan sebutan ‘nenek’, karena dia adalah salah seorang yang sangat dihormati di desa kami. Dia sangat baik kepada saya dan selalu menegur saya dengan keras saat saya bersama teman-teman menjalani kehidupan remaja yang amburadul.
            Pada saat saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, saya menceritakan hal tersebut kepadanya.
“Nenek telah puluhan tahun menjadi pelayan di gereja, nenek tahu mana yang sungguh-sungguh percaya dan mana yang tidak!”  Senyumnya sinis menanggapi pernyataan saya. Saya hanya terdiam, tetapi saya bertekad untuk menunjukkan kepadanya bahwa saya sungguh-sungguh telah menjadi anak Tuhan.
Saya membaca Alkitab dan bertekad menyelesaikan pembacaan dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Tetapi hal itu belum ada apa-apanya di mata Nenek. Setiap kali dia melintas di depan rumah saya dan melihat saya membaca Alkitab dia akan mampir dan menegur saya.
“Hati-hati dengan Alkitab. Jangan sampai Tuhan Yesus bosan melihatmu baca Alkitab setiap hari.”  Sejak saat itu saya berusaha agar dia tidak melihat saya pada saat saya sedang membaca Alkitab.
            Beberapa bulan kemudian, seorang cucu nenek mengatakan kepada saya bahwa Nenek sakit parah. Rumah sakit yang merawatnya telah meminta kepada keluarganya agar dia dirawat di rumah saja. Bergegas saya mengunjunginya dan ketika melihatnya terbaring lemah di tempat tidurnya saya sangat terharu.  Bagian tubuhnya yang masih bisa digerakkan hanyalah bagian leher saja.
            Saya memeluknya dan berbisik, “Nenek tahu bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk mengampuni seluruh dosa Nenek, kan?” Dia mengangguk.
            Nenek percaya bahwa Dia menyediakan hidup kekal kepada orang yang percaya kepada-Nya, kan?” Dia kembali mengangguk diiringi tetesan airmata di pipinya yang keriput.
            Tiba-tiba tangannya menggenggam tangan saya dan berucap lirih, “Maafkan nenek, ya? Nenek malu mengakui bahwa nenek sebenarnya baru percaya Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh saat melihat perubahan pada sikap hidupmu.”
            Suaranya terbata-bata dan lemah. Kemudian suasana menjadi hening dan teduh sekali. 

Tuesday, August 26, 2014

Sahabat Adalah Sahabat

Kami bertemu kembali setelah berpisah selama 22 tahun. Satu kurun waktu yang cukup panjang yang selalu terisi dengan berbagai masalah dalam kehidupan kami. Masalah yang tidak pernah berakhir walaupun kami sama-sama merasa bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar, dan hal tersebut terbukti pada hari ini.
Seperti ketika kami masih kanak-kanak, setiap kali kami berdua jalan sama-sama, kami selalu berangkulan. Saya selalu meletakkan tangan saya di bahunya demikian juga dengannya. Jika kami melakukan ini kami selalu melakukannya dengan gembira bahwa kami adalah sahabat yang tidak akan terpisahkan. Kami berjanji jika pun kami terpisah maka pada saat kami bertemu kembali kami akan berpelukan sebagai tanda bahwa persahabatan kami abadi. Janji itu kami pegang seperti yang terjadi hari ini.
Saat kami sama-sama remaja, kami adalah kumpulan dari anak-anak yang memiliki keinginan dan angan-angan. Kami sadari bahwa kemungkinan untuk mencapainya pastilah sangat kecil. Tetapi kami tidak berhenti berkhayal, karena kami tahu dengan berkhayal kami tidak merugikan orang lain. Kami hanya ingin mendapatkan kebahagiaan sekalipun itu hanya di khayalan kami.
Kami terpaksa berkhayal mendapatkan kebahagiaan karena kami berdua sama-sama tidak memiliki ayah. Ayahnya meninggalkan dia dan adik-adiknya dan menikah dengan wanita lain. Sementara saya kehilangan ayah karena kembali kepada Bapa di sorga. Untuk masalah kehilangan ini kami berbeda pendapat dan kami akan membicarakannya dengan mata sembab. Menurutnya rasa sakit dari kehilangan yang saya alami lebih ringan daripada kehilangan yang dia alami. Sementara saya merasa rasa sakit dari kehilangan yang dia alami jauh lebih ringan daripada yang saya alami. Bagi saya, seandainya dia ingin bertemu dengan ayahnya dia masih dapat melakukannya karena ayahnya masih hidup. Tetapi baginya jauh lebih baik jika ayahnya telah meninggal sehingga dia dan keluarganya tidak melihat lagi apa yang diperbuat oleh ayahnya di dunia ini.
Hari ini setelah 22 tahun berlalu, kami bertemu lagi. Sama-sama tidak memiliki ayah tetapi sama-sama telah menjadi ayah bagi sepasang anak kami masing-masing. Kami kembali berpelukan tetapi kali ini diiringi rasa sedih yang sangat dalam. Kami tidak lagi dapat berkhayal tentang sesuatu yang pernah kami lakukan. Kesedihan ini adalah kesedihan yang sangat melukai saya. Kami sama-sama telah kehilangan ayah, tetapi kali ini saya juga kehilangan ibu, orang yang kepadanya saya berbagi khayalan dan kesedihan. Baginya kesedihan yang saya alami mungkin belum dialaminya karena dia masih memiliki seorang ibu yang mengasihinya dengan tulus.
Dalam pelukan untuk menghibur saya, saya mendengar suaranya, “Kita tidak dapat bersahabat seperti Tuhan Yesus yang rela menyerahkan nyawa-Nya, tetapi kamu kan pernah mengatakan bahwa sahabat adalah sahabat sampai mati. Apapun yang hilang atau diambil dari kita, kita akan rasakan bersama.” Saya hanya bisa diam, karena kehilangan ibu adalah kehilangan separuh hidup bahkan lebih dari sahabat, tetapi saya bangga memiliki sahabat dari Tuhan. 

Monday, August 25, 2014

Kau Pernah Mengatakannya

            Saya baru saja melambaikan tangan kepada anak sulung saya yang berangkat ke tempat kursusnya, pada saat telpon berdering. Saya  bergegas hendak mengangkatnya tetapi deringnya tiba-tiba mati. Saya berpikir itu pasti telpon dari teman anak saya.
            Baru saja saya hendak ke dapur, telpon berdering lagi. Perlahan saya mengangkatnya dan terdengar suara si penelpon menyebut nama saya, tetapi nama itu adalah nama yang biasa di sapa oleh teman-teman sekolah saya. Saya sadar, ini pasti teman sekolah saya dahulu.
Dugaan saya benar dan pembicaraanpun menjadi ramai karena kami saling bertanya tentang status masing-masing setelah lama berpisah.
            “Suami saya seorang Pendeta.” Suaranya sangat ceria.
            “Koq, kamu bisa menikah dengan Pendeta? Dulu kamu tidak suka sama yang orang yang berkhotbah. Mengapa berubah?” Saya mengingatkan masa lalu kami sambil tertawa.
            “Iya, harusnya begitu. Tetapi kamu ingat nggak, waktu kita selesai mengikuti upacara bendera? Waktu itu kamu bilang, kamu sangat yakin bahwa kamu pasti masuk surga karena Tuhan Yesus telah menebus dosamu?” Lalu dia kembali menceritakan kisah itu.
            “Saya lama merenungkan itu. Saya berpikir kamu terlalu berlebihan dan itu sangat mengganggu saya tetapi setiap kali saya bertemu denganmu saya selalu melihat kamu menghadapi sesuatu dengan begitu tenang dan sukacita. Apalagi waktu kamu katakan bahwa saya pun dapat memiliki itu jika saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi saya.” Dia tertawa.
            “Sudah lama sekali saya mencari alamatmu atau paling tidak nomor telponmu. Saya ingin berterimakasih karena kamu pernah mengatakan sesuatu yang sangat berharga. Sekarang saya melayani Tuhan bersama keluarga saya dan saya bertekad menyampaikan kepada orang lain
bahwa Tuhan Yesus juga mau mengampuni dosa mereka.”
            Setelah telpon ditutup, saya duduk sendirian. Saya tidak pernah menyangka bahwa pembicaraan yang hanya sepintas lalu pada saat kami masih SMP dulu ternyata dipakai Tuhan untuk membawa orang kepada-Nya. Hari ini Tuhan mengingatkan saya bahwa saya pernah mengatakan sesuatu dan sesuatu itu adalah Injil.
Ternyata memberitakan injil itu tidak pernah sia-sia.

Friday, August 22, 2014

Sendiri


SAYA MASIH MENGINGATNYA



Kembali lagi ke kampung saat saya dibesarkan adalah sukacita sekalipun ada banyak sekali tempat telah berubah. Salah satu tempat yang tidak banyak berubah hanyalah pekuburan di ujung kampung. Kesanalah langkah kaki saya tertuju. Saya ingin melihat kuburan ayah saya dan menikmati kesendirian seperti yang dulu saya lakukan ketika rindu kepada sosok ayah datang menyergap.
Ketika saya merindukan ayah, saya suka duduk di atas pusara ayah sambil melamunkan kenangan indah bersamanya sekalipun saya hanya menikmatinya sampai umur 12 tahun. Jika berada di sini saya tidak pernah menangis, saya hanya berbicara dalam hati saya karena saya sadar ayah saya tidak melihat saya apalagi mendengar apa yang saya katakan.
Memang saat itu saya belum menjadi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sehingga saya belum tahu apa yang dikatakan Alkitab tentang orang yang telah meninggal. Saya hanya tahu bahwa ayah sedang beristirahat panjang seperti yang tertulis di pusaranya. Itu sebabnya saya tidak pernah merasa takut berada di sini.
Setelah beberapa saat dan saya harus kembali ke rumah, langkah saya terhenti ketika mata saya sempat membaca sebuah nama di atas pusara yang tidak jauh dari pusara ayah saya. Nama itu sangat saya kenal karena saat dia hidup saya pernah menyakitinya. Saat itu saya mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas ketika dia sedang berkhotbah. Tetapi dengan sabar dia mengampuni saya.
Saya teringat kembali ketika dia menatap saya dengan air mata membasahi pipinya. “Saya tidak akan membencimu. Tidak akan…! Saya tahu kamu tidak jahat. Kamu hanya tidak mengerti bahwa apa yang kamu lakukan itu salah dan sangat menyakiti saya. Kamu gembira sejenak ketika melihat saya tersakiti tetapi setelah itu saya tahu kamu menyesalinya.” Waktu itu saya hanya terdiam.
“Saya akan selalu berdoa untuk kamu. Saya meminta kepada Tuhan Yesus dan yakin bahwa suatu hari nanti Tuhan Yesus pasti akan membuat engkau menjadi milik-Nya dan engkau akan menjadi hamba-Nya. Jika itu terjadi tolong ingat bahwa saya pernah mengatakannya.”
Beberapa tahun setelah itu apa yang dia katakan memang terjadi. Saya menjadi hamba Tuhan tetapi saya tidak pernah bertemu lagi dengannya. Saya bahkan tidak lagi mendengar kabar tentang dia. Tetapi  hari ini saya mengingat kembali apa yang dia katakan.
Saya mengingat ayah saya dan mengingat dia. Mereka tidak melihat saya seperti saya tidak melihat mereka tetapi saya sedang berada di sini di pusara mereka tempat suatu saat mereka akan dibangkitkan.

Thursday, June 12, 2014

Tuhan Membawaku Sampai Di sini



            Sebagai seorang remaja putri dan anak seorang janda miskin yang tinggal di desa, saya memiliki angan yang selalu saya pendam dalam hati saya. Saya begitu rindu menjejakkan kaki saya di ibu kota negara saya. Sampai pada suatu hari keinginan itu nyaris terlaksana. Saya diajak oleh seseorang untuk jalan-jalan ke ibu kota, tetapi saat itu orang tua dan kakak saya melarang saya.
            Saat itu saya sangat frustasi. Saya merasa mereka tidak memahami saya dan telah menghancurkan harapan saya. Saya ingin berontak tetapi saya sangat mengasihi keluarga saya sehingga saya menerima semuanya dengan tulus. Bagi saya mereka adalah segalanya.
            Seorang teman kakak saya yang adalah seorang hamba Tuhan menghibur saya. “Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita, maka tidak mungkin Dia akan membiarkan kita. Jika Dia menghendaki maka suatu hari engkau akan tiba di tempat yang engkau dambakan.” Kata-katanya sangat kuat menghibur saya. ‘Jika Tuhan menghendaki’, ya!
            Hari ini setelah 26 tahun, kata-kata hamba Tuhan itu tergenapi. Tuhan telah membawa saya ke tempat yang dulu saya angankan. Dia bahkan telah membawa saya jauh ke beberapa negara yang tidak pernah bahkan tidak berani saya angankan.
            Hari ini saya menikmati kata-kata yang saya anggap seperti suatu nubuat sekalipun saya tahu itu bukan nubuat seperti yang dimaksudkan Alkitab. Hari ini saya dapat bercengkerama dengan  kakak saya seperti yang pernah kami lakukan di desa puluhan tahun lalu. Hanya bedanya kami bercengkerama bukan di desa kami tetapi di ibukota negara saya.
            Dan yang luar biasa adalah kami juga bercengkerama dengan hamba Tuhan yang dulu mengatakan kepada saya bahwa ‘Jika Tuhan menghendaki saya akan tiba di tempat dimana saya dambakan’.  Tuhan telah membawaku ke sini. Dia melakukannya dengan begitu indah. Dia melakukan tanpa memberi saya tanda-tanda bahwa apa yang saya dambakan akan terlaksana. Dia melakukannya karena memang hanya Dia yang dapat melakukannya.
            Saya begitu bangga menikmati kebaikan Tuhan bagi  saya. Secara manusia hal ini tidak mungkin terjadi. Mungkin bagi orang lain ini adalah hal biasa tetapi bagi saya ini mujizat. Tidak ada satupun yang dapat saya lakukan untuk mewujudkan angan-angan saya. Ini adalah salah satu mujizat terbesar dalam hidup saya. (Noni)       

Ternyata Dia Menangis Juga



        Sejak kecil dia selalu malas mengeluarkan suara untuk bicara sesuatu yang dia anggap tidak perlu atau untuk sesuatu yang dirasanya orang lain sudah mengetahuinya. Dia memang pendiam tetapi dia selalu tersenyum kepada siapa saja walaupun dengan sikap malu-malu. Sifatnya selalu menjadikan dia sebagai pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya.
            Ketika ibunya tetrbaring sakit, seperti biasanya dia kelihatan tenang dan tidak banyak bicara. Dipandanginya ibunya seakan tanpa berkedip sambil sesekali membelai jemari ibunya yang keriput dimakan usia. Dadanya yang bidang terlihat kuat membungkus hatinya yang susah ditangkap artinya. Dia memang kuat melawan tekanan fisik dan rasanya belum pernah dia mengeluarkan rintihan atau keluhan sehingga pada saat ini tidak ada orang yang akan mengira dia terluka. Orang-orang disekitarnya berpikir bahwa kalaupun dia terluka dia pasti akan mampu mengatasinya.
            Saat ibunya menatapnya dan seolah berkata, “Ibu sakit...apakah engkau merasakannya?” Dia membuang muka, tak berani beradu pandang dengan ibunya. Tak lama kemudian dia beringsut ke arah kaki ibunya, membuang nafas sarat dan berat. Matanya memerah tetapi tidak menangis. Memang sejak kecil jika dia menangis, dia akan dengan segera menghapus airmatanya. Sepertinya dia tidak rela pipinya disentuh airmata. Baginya airmata cukup dimata saja tidak perlu mengalir ke tempat lain.
            Saudara-saudaranya yang melihat ibunya sekarat, tak digubrisnya. Tak pernah dia menyapa mereka yang sama-sama sedih melihat ibu mereka. Dia tetap dengan dunianya sendiri, menghitung duka atau menata perasaan yang berkecamuk di dalam batinnya sendiri. Kalaupun dia disapa, dia hanya diam tanpa ekspresi. Di sinilah orang tahu bahwa sebenarnya dia gundah, dia sedih, dia sepi di antara orang-orang yang dikasihinya.
            Saat nafas ibunya melemah dan makin lemah, dia mendekat memeluk ibunya dengan cintanya. Rasanya dia ingin memberikan kekuatan kepada ibunya. Rasanya dia ingin ibunya bangkit membalas pelukannya, tetapi semuanya tidak terjadi. Ibunya sekarat dipelukannya dan saudara-saudaranya. Lalu ibunya diam dalam damai, tidak ada lagi kehidupan sementara. Ibunya telah beralih ke dalam kehidupan kekal yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesusnya.
            Tiba-tiba dia berdiri, wajahnya dipenuhi rasa sakit dan airmata. Dia menangis. Ternyata dia tidak dapat menahan sakit ketika sang ibu melangkah ke kekekalan. Ternyata dia tidak dapat ditinggalkan oleh orang yang telah membawanya ke dalam dunia. Dia hanyalah seonggok otot yang kekar tetapi bukan seonggok kekuatan berpisah dengan orang yang telah mengajarinya kasih Tuhan. Dia hanyalah seorang anak yang berduka ditinggal sang ibu (Thenten).