Tuesday, November 4, 2014
Thursday, September 11, 2014
Monday, September 8, 2014
Adik Terkasih
Dia berdiri di bawah tiang
penopang lampu pengatur lalulintas sambil mengendong adiknya yang kira-kira
berusia setahun. Sesekali diciumi adiknya dengan gemas sambil
menggoyang-goyangkan plastik bekas pembungkus permen yang berisi uang recehan
pemberian orang-orang yang iba melihatnya. Dia tersenyum gembira ketika adiknya
menggeliat mencoba menggapai uang tersebut.
Ketika lampu merah
menyala, dia mendekati sebuah mobil mewah yang berhenti sambil menyanyikan
sebuah lagu pop dengan suara falsnya. Tetapi orang yang ada di dalam mobil
tidak bereaksi sampai mobil tersebut bergerak meninggalkan dia dan
adiknya.
Sambil membetulkan posisi gendongannya, kembali
diciumnya adiknya seolah dia menunjukkan bahwa dia tidak peduli ketika orang
lain tidak peduli pada apa yang telah dan sedang dilakukannya. Dia tidak
kelihatan sedih ketika orang-orang mengabaikannya karena dia hanya peduli
kepada adiknya yang manja dalam gendongannya.
“Apa kamu tidak capek menggendong adikmu? Apa kamu
tidak takut adikmu sakit? Memangnya orang tua kamu kemana?” Demikian pertanyaan
yang selalu didengarnya, seolah peduli dan mengasihinya.
Memang dia adalah salah satu orang dari begitu
banyak orang yang mencari rejeki dengan cara membuat orang lain terharu melihat
adik kecilnya. Rasanya dia sedang melakukan dosa penipuan atau apalah namanya,
tetapi sebenarnya dia sedang memberi pelajaran kepada banyak orang tentang
salah satu bagian dari apa yang dinamakan kasih.
Orang tuanya tidak mengasihi dia dan adiknya
sehingga membiarkan dia berada di jalanan menjadi peminta-minta. Orang yang
bermobil mewahpun tidak mengasihinya ketika dia menghampiri mereka. Mereka
berbuat seolah dia adalah kotoran yang harus dijauhi. Demikian juga dengan
orang-orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Tetapi dia begitu mengasihi adiknya. Dia
mengendongnya dan menciuminya ketika orang lain tidak peduli kepadanya. Dia
membawanya bukan sebagai beban tetapi sebagai sesuatu yang dikasihinya dan
menjadi temannya dimanapun dia berada. Adiknya adalah penghiburannya.
Dan tanpa sadar dia yang baru berusia kira-kira sembilan tahun telah
berhasil menitikkan air mata seorang hamba Tuhan yang malu dan merasa hina
ketika menatapnya dari kejauhan.
Siapa Yang Lebih Hebat?
Setiap kali bepergian dengan menggunakan bus kota
banyak kali saya berjumpa dengan pengamen-pengamen cilik yang tampil apa
adanya, khas anak-anak. Jika ada kesempatan saya juga sering berbincang dengan
mereka tentang apa yang sedang mereka lakukan bahkan apa yang mendorong mereka
melakukan hal tersebut. Biasanya jawaban mereka adalah jawaban yang standar
yaitu untuk biaya sekolah.
Hari
ini pun saya berjumpa dengan seorang pengamen cilik. Saya tidak sempat
melihatnya menyanyi atau melakukan sesuatu yang biasa saya temukan. Saat saya
duduk dibangku paling belakang (tempat biasa saya gunakan untuk berbincang
dengan pengamen) saya melihat seorang pengamen cilik lagi tertunduk diam
dihadapan seorang ibu yang kelihatannya terpelajar.
Sepintas
saya mendengar suara ibu tersebut menggurui sang pengamen cilik. “Kamu jangan
ngamen lagi, mendingan kamu sekolah atau bantu orang tua di rumah. Kalau kamu
ngamen, kamu akan terbiasa dengan duit dan kamu akan keenakan”.
Saya
beringsut mendekati sang pengamen cilik sampil menepuk pundaknya. Si ibu
menatapi saya, “Pak, anak-anak seperti ini sulit sekali berubah dari jalanan ke
kehidupan normal. Mereka sudah terbiasa dengan duit. Saat dewasa, mereka
biasanya menjadi preman-preman yang
meresahkan orang lain. Makanya saya bilang ke dia
agar sekolah atau bantu orang tua di rumah saja.” Saya tersenyum mendengar
ceramahnya.
Kemudian ceramah berlanjut berupa
kesaksian. “Anak-anak sekarang memang sulit. Mereka maunya yang enak-enak saja.
Anak saya juga nggak mau bantu saya meskipun hanya untuk pekerjaan rumah. Mereka
hanya mau duit, dan bersantai-santai. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada
mereka di masa depan.”
Saya
memegang tangan sang pengamen cilik dan berbisik, “Kamu masih sekolah?” Dia
mengangguk, “Setelah ini saya pulang untuk sekolah” Saya tersentuh, “Kamu lebih
hebat dari orang-orang dalam bus ini jika kamu ngamen untuk bantu orang tua dan
untuk biaya sekolah. Ada orang sekolah
dibiayai oleh orang tua mereka tetapi kamu biayai diri sendiri.” Dia menatap
saya, “Saya lebih hebat dari mereka? Masak sih?”
Saya merangkul bahunya, “Iya. Kalau kamu tetap sekolah, kamu akan tahu
bahwa kamu hebat. Tuhan Yesus yang saya percaya mengasihimu.”
Pantaskah Membenci?
Saya termasuk anak yang tidak begitu baik di
antara teman-teman sebaya saya sehingga beberapa orang tua melarang anak-anak
mereka bergaul dengan saya. Tidak jarang saya dikata-katai di depan orang
karena kelakuan saya. Anehnya saya tidak pernah merasa harus menangggapi atau
marah kepada mereka. Saya merasa tidak perlu mempedulikan mereka bahkan saya
menganggap mereka tidak ada.
Ketika saya lahir baru karena saya menerima
pengampunan dari Tuhan Yesus, saya berjanji akan memberitakan injil anugerah
Allah pertama-tama kepada orang terdekat saya. Tetapi ternyata semua tidak
berjalan seperti yang saya bayangkan. Saya tetap ditolak.
Karena saya selalu membicarakan kasih Tuhan yang
dinyatakan dalam Alkitab, maka saya selalu mendengar kata-kata,
“Awas... Farisi modern lewat.”
Awalnya saya tidak mengubris mereka, tetapi
lama-kelamaan saya menjadi tidak sabar. Saya menjadi benci dan marah. Saya
merasa mereka harus diberitahu bahwa saya telah berubah dan menjadi orang yang
beriman yang dijamin Tuhan Yesus. Saya merasa tidak merugikan orang ketika saya
menyampaikan kabar baik. Mengapa saya masih dimusuhi juga?
Suatu hari saya menghadiri ibadah di rumah satu
keluarga. Karena Pendeta yang harusnya melayani tidak hadir maka untuk mengisi
khotbah, salah seorang yang sering menyebut saya sebagai Farisi modern atau
nabi palsu mengisinya dengan membacakan bagian dari buku Renungan Harian. Saya
berpikir dia akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang saya.
Renungan yang dibacanya berbicara tentang seorang
nabi yang ditolak dari antara saudaranya. Saya tidak begitu peduli karena saya
tahu saya bukan seorang nabi. Tetapi setelah selesai membacakan renungannya
orang tersebut datang memeluk saya dengan air mata berlinang memohon maaf
kepada saya. Saya bingung melihat apa yang terjadi, apalagi ketika beberapa
orang juga turut meminta maaf.
Saat itu saya merasa amat bersalah karena mereka tidak tahu bahwa
sebenarnya saya mulai membenci mereka. Tuhan menegur saya dan menunjukkan bahwa
jika sebelum lahir baru saya bisa menerima orang yang mengabaikan saya, mengapa
sekarang tidak? Saya belajar bahwa mereka harus dikasihi dan jika saya membenci
maka itu berarti saya lebih jahat dari saat saya belum lahir baru.
Sebelum Mata Tertutup Selamanya
Saya menyapanya dengan sebutan ‘nenek’, karena dia adalah salah seorang
yang sangat dihormati di desa kami. Dia sangat baik kepada saya dan selalu
menegur saya dengan keras saat saya bersama teman-teman menjalani kehidupan
remaja yang amburadul.
Pada saat saya menerima
Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, saya menceritakan hal tersebut
kepadanya.
“Nenek telah puluhan tahun menjadi pelayan di
gereja, nenek tahu mana yang sungguh-sungguh percaya dan mana yang tidak!” Senyumnya sinis menanggapi pernyataan saya.
Saya hanya terdiam, tetapi saya bertekad untuk menunjukkan kepadanya bahwa saya
sungguh-sungguh telah menjadi anak Tuhan.
Saya membaca Alkitab dan bertekad menyelesaikan
pembacaan dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Tetapi hal itu belum ada
apa-apanya di mata Nenek. Setiap kali dia melintas di depan rumah saya dan
melihat saya membaca Alkitab dia akan mampir dan menegur saya.
“Hati-hati dengan Alkitab. Jangan sampai Tuhan
Yesus bosan melihatmu baca Alkitab setiap hari.” Sejak saat itu saya berusaha agar dia tidak
melihat saya pada saat saya sedang membaca Alkitab.
Beberapa bulan kemudian,
seorang cucu nenek mengatakan kepada saya bahwa Nenek sakit parah. Rumah sakit
yang merawatnya telah meminta kepada keluarganya agar dia dirawat di rumah
saja. Bergegas saya mengunjunginya dan ketika melihatnya terbaring lemah di
tempat tidurnya saya sangat terharu.
Bagian tubuhnya yang masih bisa digerakkan hanyalah bagian leher saja.
Saya memeluknya dan
berbisik, “Nenek tahu bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk mengampuni
seluruh dosa Nenek, kan?” Dia mengangguk.
“Nenek percaya bahwa Dia menyediakan hidup kekal
kepada orang yang percaya kepada-Nya, kan?” Dia kembali mengangguk diiringi
tetesan airmata di pipinya yang keriput.
Tiba-tiba tangannya
menggenggam tangan saya dan berucap lirih, “Maafkan nenek, ya? Nenek malu
mengakui bahwa nenek sebenarnya baru percaya Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh
saat melihat perubahan pada sikap hidupmu.”
Suaranya terbata-bata
dan lemah. Kemudian suasana menjadi hening dan teduh sekali.
Tuesday, August 26, 2014
Sahabat Adalah Sahabat
Kami bertemu kembali setelah berpisah selama 22
tahun. Satu
kurun waktu yang cukup panjang yang selalu terisi dengan berbagai masalah dalam
kehidupan kami. Masalah yang tidak pernah berakhir walaupun kami sama-sama
merasa bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar, dan hal tersebut terbukti
pada hari ini.
Seperti ketika kami masih kanak-kanak, setiap kali
kami berdua jalan sama-sama, kami selalu berangkulan. Saya selalu meletakkan
tangan saya di bahunya demikian juga dengannya. Jika kami melakukan ini kami
selalu melakukannya dengan gembira bahwa kami adalah sahabat yang tidak akan
terpisahkan. Kami berjanji jika pun kami terpisah maka pada saat kami bertemu
kembali kami akan berpelukan sebagai tanda bahwa persahabatan kami abadi. Janji
itu kami pegang seperti yang terjadi hari ini.
Saat kami sama-sama remaja, kami adalah kumpulan dari anak-anak yang
memiliki keinginan dan angan-angan. Kami sadari bahwa kemungkinan untuk
mencapainya pastilah sangat kecil. Tetapi kami tidak berhenti berkhayal, karena
kami tahu dengan berkhayal kami tidak merugikan orang lain. Kami hanya ingin
mendapatkan kebahagiaan sekalipun itu hanya di khayalan kami.
Kami terpaksa berkhayal mendapatkan kebahagiaan
karena kami berdua sama-sama tidak memiliki ayah. Ayahnya meninggalkan dia dan
adik-adiknya dan menikah dengan wanita lain. Sementara saya kehilangan ayah
karena kembali kepada Bapa di sorga. Untuk
masalah kehilangan ini kami berbeda pendapat dan kami akan membicarakannya
dengan mata sembab. Menurutnya rasa sakit dari kehilangan yang saya alami lebih
ringan daripada kehilangan yang dia alami. Sementara saya merasa rasa sakit
dari kehilangan yang dia alami jauh lebih ringan daripada yang saya alami. Bagi
saya, seandainya dia ingin bertemu dengan ayahnya dia masih dapat melakukannya
karena ayahnya masih hidup. Tetapi baginya jauh lebih baik jika ayahnya telah
meninggal sehingga dia dan keluarganya tidak melihat lagi apa yang diperbuat
oleh ayahnya di dunia ini.
Hari ini setelah 22 tahun berlalu, kami bertemu
lagi. Sama-sama tidak memiliki ayah tetapi sama-sama telah menjadi ayah bagi
sepasang anak kami masing-masing.
Kami kembali berpelukan tetapi kali ini diiringi rasa sedih yang sangat dalam.
Kami tidak lagi dapat berkhayal tentang sesuatu yang pernah kami lakukan.
Kesedihan ini adalah kesedihan yang sangat melukai saya. Kami sama-sama telah
kehilangan ayah, tetapi kali ini saya juga kehilangan ibu, orang yang kepadanya
saya berbagi khayalan dan kesedihan. Baginya kesedihan yang saya alami mungkin
belum dialaminya karena dia masih memiliki seorang ibu yang mengasihinya dengan
tulus.
Dalam pelukan untuk menghibur saya, saya mendengar suaranya, “Kita tidak
dapat bersahabat seperti Tuhan Yesus yang rela menyerahkan nyawa-Nya, tetapi
kamu kan pernah mengatakan bahwa sahabat adalah sahabat sampai mati. Apapun
yang hilang atau diambil dari kita, kita akan rasakan bersama.” Saya hanya bisa diam, karena kehilangan ibu
adalah kehilangan separuh hidup bahkan lebih dari sahabat, tetapi saya bangga
memiliki sahabat dari Tuhan.
Monday, August 25, 2014
Kau Pernah Mengatakannya
Saya baru saja melambaikan
tangan kepada anak sulung saya yang berangkat ke tempat kursusnya, pada saat
telpon berdering. Saya bergegas hendak
mengangkatnya tetapi deringnya tiba-tiba mati. Saya berpikir itu pasti telpon
dari teman anak saya.
Baru saja saya hendak ke
dapur, telpon berdering lagi. Perlahan saya mengangkatnya dan terdengar suara
si penelpon menyebut nama saya, tetapi nama itu adalah nama yang biasa di sapa
oleh teman-teman sekolah saya. Saya sadar, ini pasti teman sekolah saya dahulu.
Dugaan saya benar dan pembicaraanpun menjadi ramai
karena kami saling bertanya tentang status masing-masing setelah lama berpisah.
“Suami saya seorang
Pendeta.” Suaranya sangat ceria.
“Koq, kamu bisa menikah
dengan Pendeta? Dulu kamu tidak suka sama yang orang yang berkhotbah. Mengapa
berubah?” Saya mengingatkan masa lalu kami sambil tertawa.
“Iya, harusnya begitu.
Tetapi kamu ingat nggak, waktu kita selesai mengikuti upacara bendera? Waktu
itu kamu bilang, kamu sangat yakin bahwa kamu pasti masuk surga karena Tuhan
Yesus telah menebus dosamu?” Lalu dia kembali menceritakan kisah itu.
“Saya lama merenungkan
itu. Saya berpikir kamu terlalu berlebihan dan itu sangat mengganggu saya
tetapi setiap kali saya bertemu denganmu saya selalu melihat kamu menghadapi
sesuatu dengan begitu tenang dan sukacita. Apalagi waktu kamu katakan bahwa
saya pun dapat memiliki itu jika saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat
pribadi saya.” Dia tertawa.
“Sudah lama sekali saya
mencari alamatmu atau paling tidak nomor telponmu. Saya ingin berterimakasih
karena kamu pernah mengatakan sesuatu yang sangat berharga. Sekarang saya
melayani Tuhan bersama keluarga saya dan saya bertekad menyampaikan kepada
orang lain
bahwa Tuhan Yesus juga mau mengampuni dosa mereka.”
Setelah telpon ditutup,
saya duduk sendirian. Saya tidak pernah menyangka bahwa pembicaraan yang hanya
sepintas lalu pada saat kami masih SMP dulu ternyata dipakai Tuhan untuk
membawa orang kepada-Nya. Hari ini Tuhan mengingatkan saya bahwa saya pernah
mengatakan sesuatu dan sesuatu itu adalah Injil.
Ternyata memberitakan injil itu tidak pernah sia-sia.
Friday, August 22, 2014
SAYA MASIH MENGINGATNYA
Kembali lagi ke kampung saat saya
dibesarkan adalah sukacita sekalipun ada banyak sekali tempat telah berubah.
Salah satu tempat yang tidak banyak berubah hanyalah pekuburan di ujung
kampung. Kesanalah langkah kaki saya tertuju. Saya ingin melihat kuburan ayah
saya dan menikmati kesendirian seperti yang dulu saya lakukan ketika rindu
kepada sosok ayah datang menyergap.
Ketika saya merindukan ayah,
saya suka duduk di atas pusara ayah sambil melamunkan kenangan indah bersamanya
sekalipun saya hanya menikmatinya sampai umur 12 tahun. Jika berada di sini
saya tidak pernah menangis, saya hanya berbicara dalam hati saya karena saya
sadar ayah saya tidak melihat saya apalagi mendengar apa yang saya katakan.
Memang saat itu saya belum
menjadi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sehingga saya belum tahu apa yang
dikatakan Alkitab tentang orang yang telah meninggal. Saya hanya tahu bahwa
ayah sedang beristirahat panjang seperti yang tertulis di pusaranya. Itu
sebabnya saya tidak pernah merasa takut berada di sini.
Setelah beberapa saat dan saya
harus kembali ke rumah, langkah saya terhenti ketika mata saya sempat membaca
sebuah nama di atas pusara yang tidak jauh dari pusara ayah saya. Nama itu
sangat saya kenal karena saat dia hidup saya pernah menyakitinya. Saat itu saya
mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas ketika dia sedang berkhotbah. Tetapi
dengan sabar dia mengampuni saya.
Saya teringat kembali ketika
dia menatap saya dengan air mata membasahi pipinya. “Saya tidak akan
membencimu. Tidak akan…! Saya tahu kamu tidak jahat. Kamu hanya tidak mengerti
bahwa apa yang kamu lakukan itu salah dan sangat menyakiti saya. Kamu gembira
sejenak ketika melihat saya tersakiti tetapi setelah itu saya tahu kamu
menyesalinya.” Waktu itu saya hanya terdiam.
“Saya akan selalu berdoa untuk
kamu. Saya meminta kepada Tuhan Yesus dan yakin bahwa suatu hari nanti Tuhan
Yesus pasti akan membuat engkau menjadi milik-Nya dan engkau akan menjadi hamba-Nya.
Jika itu terjadi tolong ingat bahwa saya pernah mengatakannya.”
Beberapa tahun setelah itu apa
yang dia katakan memang terjadi. Saya menjadi hamba Tuhan tetapi saya tidak
pernah bertemu lagi dengannya. Saya bahkan tidak lagi mendengar kabar tentang
dia. Tetapi hari ini saya mengingat
kembali apa yang dia katakan.
Saya mengingat ayah saya dan mengingat dia. Mereka
tidak melihat saya seperti saya tidak melihat mereka tetapi saya sedang berada
di sini di pusara mereka tempat suatu saat mereka akan dibangkitkan.
Thursday, July 31, 2014
Wednesday, July 16, 2014
Tuesday, June 24, 2014
Thursday, June 12, 2014
Tuhan Membawaku Sampai Di sini
Sebagai seorang remaja
putri dan anak seorang janda miskin yang tinggal di desa, saya memiliki angan
yang selalu saya pendam dalam hati saya. Saya begitu rindu menjejakkan kaki
saya di ibu kota negara saya. Sampai pada suatu hari keinginan itu nyaris
terlaksana. Saya diajak oleh seseorang untuk jalan-jalan ke ibu kota, tetapi
saat itu orang tua dan kakak saya melarang saya.
Saat itu saya sangat
frustasi. Saya merasa mereka tidak memahami saya dan telah menghancurkan
harapan saya. Saya ingin berontak tetapi saya sangat mengasihi keluarga saya
sehingga saya menerima semuanya dengan tulus. Bagi saya mereka adalah segalanya.
Seorang teman kakak saya
yang adalah seorang hamba Tuhan menghibur saya. “Tuhan Yesus telah
menyelamatkan kita, maka tidak mungkin Dia akan membiarkan kita. Jika Dia
menghendaki maka suatu hari engkau akan tiba di tempat yang engkau dambakan.”
Kata-katanya sangat kuat menghibur saya. ‘Jika Tuhan menghendaki’, ya!
Hari ini setelah 26 tahun,
kata-kata hamba Tuhan itu tergenapi. Tuhan telah membawa saya ke tempat yang
dulu saya angankan. Dia bahkan telah membawa saya jauh ke beberapa negara yang
tidak pernah bahkan tidak berani saya angankan.
Hari ini saya menikmati
kata-kata yang saya anggap seperti suatu nubuat sekalipun saya tahu itu bukan
nubuat seperti yang dimaksudkan Alkitab. Hari ini saya dapat bercengkerama
dengan kakak saya seperti yang pernah
kami lakukan di desa puluhan tahun lalu. Hanya bedanya kami bercengkerama bukan
di desa kami tetapi di ibukota negara saya.
Dan yang luar biasa adalah
kami juga bercengkerama dengan hamba Tuhan yang dulu mengatakan kepada saya
bahwa ‘Jika Tuhan menghendaki saya akan tiba di tempat dimana saya
dambakan’. Tuhan telah membawaku ke
sini. Dia melakukannya dengan begitu indah. Dia melakukan tanpa memberi saya
tanda-tanda bahwa apa yang saya dambakan akan terlaksana. Dia melakukannya
karena memang hanya Dia yang dapat melakukannya.
Saya begitu bangga
menikmati kebaikan Tuhan bagi saya.
Secara manusia hal ini tidak mungkin terjadi. Mungkin bagi orang lain ini
adalah hal biasa tetapi bagi saya ini mujizat. Tidak ada satupun yang dapat
saya lakukan untuk mewujudkan angan-angan saya. Ini adalah salah satu mujizat
terbesar dalam hidup saya. (Noni)
Ternyata Dia Menangis Juga
Sejak kecil dia selalu malas mengeluarkan suara
untuk bicara sesuatu yang dia anggap tidak perlu atau untuk sesuatu yang
dirasanya orang lain sudah mengetahuinya. Dia memang pendiam tetapi dia selalu
tersenyum kepada siapa saja walaupun dengan sikap malu-malu. Sifatnya selalu
menjadikan
dia sebagai pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya.
Ketika ibunya tetrbaring
sakit, seperti biasanya dia kelihatan tenang dan tidak banyak bicara.
Dipandanginya ibunya seakan tanpa berkedip sambil sesekali membelai jemari
ibunya yang keriput dimakan usia. Dadanya yang bidang terlihat kuat membungkus
hatinya yang susah ditangkap artinya. Dia memang kuat melawan tekanan fisik dan
rasanya belum pernah dia mengeluarkan rintihan atau keluhan sehingga pada saat ini
tidak ada orang yang akan mengira dia terluka. Orang-orang disekitarnya
berpikir bahwa kalaupun dia terluka dia pasti akan mampu mengatasinya.
Saat ibunya menatapnya dan
seolah berkata, “Ibu sakit...apakah engkau merasakannya?” Dia membuang muka,
tak berani beradu pandang dengan ibunya. Tak lama kemudian dia beringsut ke
arah kaki ibunya, membuang nafas sarat dan berat. Matanya memerah tetapi tidak
menangis. Memang sejak kecil jika dia menangis, dia akan dengan segera
menghapus airmatanya. Sepertinya dia tidak rela pipinya disentuh airmata.
Baginya airmata cukup dimata saja tidak perlu mengalir ke tempat lain.
Saudara-saudaranya yang
melihat ibunya sekarat, tak digubrisnya. Tak pernah dia menyapa mereka yang
sama-sama sedih melihat ibu mereka. Dia tetap dengan dunianya sendiri,
menghitung duka atau menata perasaan yang berkecamuk di dalam batinnya sendiri.
Kalaupun dia disapa, dia hanya diam tanpa ekspresi. Di sinilah orang tahu bahwa
sebenarnya dia gundah, dia sedih, dia sepi di antara orang-orang yang
dikasihinya.
Saat nafas ibunya melemah
dan makin lemah, dia mendekat memeluk ibunya dengan cintanya. Rasanya dia ingin
memberikan kekuatan kepada ibunya. Rasanya dia ingin ibunya bangkit membalas
pelukannya, tetapi semuanya tidak terjadi. Ibunya sekarat dipelukannya dan
saudara-saudaranya. Lalu ibunya diam dalam damai, tidak ada lagi kehidupan
sementara. Ibunya telah beralih ke dalam kehidupan kekal yang hanya dapat
dinikmati oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesusnya.
Tiba-tiba dia berdiri,
wajahnya dipenuhi rasa sakit dan airmata. Dia menangis. Ternyata dia tidak
dapat menahan sakit ketika sang ibu melangkah ke kekekalan. Ternyata dia tidak
dapat ditinggalkan oleh orang yang telah membawanya ke dalam dunia. Dia
hanyalah seonggok otot yang kekar tetapi bukan seonggok kekuatan berpisah
dengan orang yang telah mengajarinya kasih Tuhan. Dia hanyalah seorang anak
yang berduka ditinggal sang ibu (Thenten).
Subscribe to:
Posts (Atom)




















