Tuesday, August 26, 2014

Sahabat Adalah Sahabat

Kami bertemu kembali setelah berpisah selama 22 tahun. Satu kurun waktu yang cukup panjang yang selalu terisi dengan berbagai masalah dalam kehidupan kami. Masalah yang tidak pernah berakhir walaupun kami sama-sama merasa bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar, dan hal tersebut terbukti pada hari ini.
Seperti ketika kami masih kanak-kanak, setiap kali kami berdua jalan sama-sama, kami selalu berangkulan. Saya selalu meletakkan tangan saya di bahunya demikian juga dengannya. Jika kami melakukan ini kami selalu melakukannya dengan gembira bahwa kami adalah sahabat yang tidak akan terpisahkan. Kami berjanji jika pun kami terpisah maka pada saat kami bertemu kembali kami akan berpelukan sebagai tanda bahwa persahabatan kami abadi. Janji itu kami pegang seperti yang terjadi hari ini.
Saat kami sama-sama remaja, kami adalah kumpulan dari anak-anak yang memiliki keinginan dan angan-angan. Kami sadari bahwa kemungkinan untuk mencapainya pastilah sangat kecil. Tetapi kami tidak berhenti berkhayal, karena kami tahu dengan berkhayal kami tidak merugikan orang lain. Kami hanya ingin mendapatkan kebahagiaan sekalipun itu hanya di khayalan kami.
Kami terpaksa berkhayal mendapatkan kebahagiaan karena kami berdua sama-sama tidak memiliki ayah. Ayahnya meninggalkan dia dan adik-adiknya dan menikah dengan wanita lain. Sementara saya kehilangan ayah karena kembali kepada Bapa di sorga. Untuk masalah kehilangan ini kami berbeda pendapat dan kami akan membicarakannya dengan mata sembab. Menurutnya rasa sakit dari kehilangan yang saya alami lebih ringan daripada kehilangan yang dia alami. Sementara saya merasa rasa sakit dari kehilangan yang dia alami jauh lebih ringan daripada yang saya alami. Bagi saya, seandainya dia ingin bertemu dengan ayahnya dia masih dapat melakukannya karena ayahnya masih hidup. Tetapi baginya jauh lebih baik jika ayahnya telah meninggal sehingga dia dan keluarganya tidak melihat lagi apa yang diperbuat oleh ayahnya di dunia ini.
Hari ini setelah 22 tahun berlalu, kami bertemu lagi. Sama-sama tidak memiliki ayah tetapi sama-sama telah menjadi ayah bagi sepasang anak kami masing-masing. Kami kembali berpelukan tetapi kali ini diiringi rasa sedih yang sangat dalam. Kami tidak lagi dapat berkhayal tentang sesuatu yang pernah kami lakukan. Kesedihan ini adalah kesedihan yang sangat melukai saya. Kami sama-sama telah kehilangan ayah, tetapi kali ini saya juga kehilangan ibu, orang yang kepadanya saya berbagi khayalan dan kesedihan. Baginya kesedihan yang saya alami mungkin belum dialaminya karena dia masih memiliki seorang ibu yang mengasihinya dengan tulus.
Dalam pelukan untuk menghibur saya, saya mendengar suaranya, “Kita tidak dapat bersahabat seperti Tuhan Yesus yang rela menyerahkan nyawa-Nya, tetapi kamu kan pernah mengatakan bahwa sahabat adalah sahabat sampai mati. Apapun yang hilang atau diambil dari kita, kita akan rasakan bersama.” Saya hanya bisa diam, karena kehilangan ibu adalah kehilangan separuh hidup bahkan lebih dari sahabat, tetapi saya bangga memiliki sahabat dari Tuhan. 

Monday, August 25, 2014

Kau Pernah Mengatakannya

            Saya baru saja melambaikan tangan kepada anak sulung saya yang berangkat ke tempat kursusnya, pada saat telpon berdering. Saya  bergegas hendak mengangkatnya tetapi deringnya tiba-tiba mati. Saya berpikir itu pasti telpon dari teman anak saya.
            Baru saja saya hendak ke dapur, telpon berdering lagi. Perlahan saya mengangkatnya dan terdengar suara si penelpon menyebut nama saya, tetapi nama itu adalah nama yang biasa di sapa oleh teman-teman sekolah saya. Saya sadar, ini pasti teman sekolah saya dahulu.
Dugaan saya benar dan pembicaraanpun menjadi ramai karena kami saling bertanya tentang status masing-masing setelah lama berpisah.
            “Suami saya seorang Pendeta.” Suaranya sangat ceria.
            “Koq, kamu bisa menikah dengan Pendeta? Dulu kamu tidak suka sama yang orang yang berkhotbah. Mengapa berubah?” Saya mengingatkan masa lalu kami sambil tertawa.
            “Iya, harusnya begitu. Tetapi kamu ingat nggak, waktu kita selesai mengikuti upacara bendera? Waktu itu kamu bilang, kamu sangat yakin bahwa kamu pasti masuk surga karena Tuhan Yesus telah menebus dosamu?” Lalu dia kembali menceritakan kisah itu.
            “Saya lama merenungkan itu. Saya berpikir kamu terlalu berlebihan dan itu sangat mengganggu saya tetapi setiap kali saya bertemu denganmu saya selalu melihat kamu menghadapi sesuatu dengan begitu tenang dan sukacita. Apalagi waktu kamu katakan bahwa saya pun dapat memiliki itu jika saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi saya.” Dia tertawa.
            “Sudah lama sekali saya mencari alamatmu atau paling tidak nomor telponmu. Saya ingin berterimakasih karena kamu pernah mengatakan sesuatu yang sangat berharga. Sekarang saya melayani Tuhan bersama keluarga saya dan saya bertekad menyampaikan kepada orang lain
bahwa Tuhan Yesus juga mau mengampuni dosa mereka.”
            Setelah telpon ditutup, saya duduk sendirian. Saya tidak pernah menyangka bahwa pembicaraan yang hanya sepintas lalu pada saat kami masih SMP dulu ternyata dipakai Tuhan untuk membawa orang kepada-Nya. Hari ini Tuhan mengingatkan saya bahwa saya pernah mengatakan sesuatu dan sesuatu itu adalah Injil.
Ternyata memberitakan injil itu tidak pernah sia-sia.

Friday, August 22, 2014

Sendiri


SAYA MASIH MENGINGATNYA



Kembali lagi ke kampung saat saya dibesarkan adalah sukacita sekalipun ada banyak sekali tempat telah berubah. Salah satu tempat yang tidak banyak berubah hanyalah pekuburan di ujung kampung. Kesanalah langkah kaki saya tertuju. Saya ingin melihat kuburan ayah saya dan menikmati kesendirian seperti yang dulu saya lakukan ketika rindu kepada sosok ayah datang menyergap.
Ketika saya merindukan ayah, saya suka duduk di atas pusara ayah sambil melamunkan kenangan indah bersamanya sekalipun saya hanya menikmatinya sampai umur 12 tahun. Jika berada di sini saya tidak pernah menangis, saya hanya berbicara dalam hati saya karena saya sadar ayah saya tidak melihat saya apalagi mendengar apa yang saya katakan.
Memang saat itu saya belum menjadi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sehingga saya belum tahu apa yang dikatakan Alkitab tentang orang yang telah meninggal. Saya hanya tahu bahwa ayah sedang beristirahat panjang seperti yang tertulis di pusaranya. Itu sebabnya saya tidak pernah merasa takut berada di sini.
Setelah beberapa saat dan saya harus kembali ke rumah, langkah saya terhenti ketika mata saya sempat membaca sebuah nama di atas pusara yang tidak jauh dari pusara ayah saya. Nama itu sangat saya kenal karena saat dia hidup saya pernah menyakitinya. Saat itu saya mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas ketika dia sedang berkhotbah. Tetapi dengan sabar dia mengampuni saya.
Saya teringat kembali ketika dia menatap saya dengan air mata membasahi pipinya. “Saya tidak akan membencimu. Tidak akan…! Saya tahu kamu tidak jahat. Kamu hanya tidak mengerti bahwa apa yang kamu lakukan itu salah dan sangat menyakiti saya. Kamu gembira sejenak ketika melihat saya tersakiti tetapi setelah itu saya tahu kamu menyesalinya.” Waktu itu saya hanya terdiam.
“Saya akan selalu berdoa untuk kamu. Saya meminta kepada Tuhan Yesus dan yakin bahwa suatu hari nanti Tuhan Yesus pasti akan membuat engkau menjadi milik-Nya dan engkau akan menjadi hamba-Nya. Jika itu terjadi tolong ingat bahwa saya pernah mengatakannya.”
Beberapa tahun setelah itu apa yang dia katakan memang terjadi. Saya menjadi hamba Tuhan tetapi saya tidak pernah bertemu lagi dengannya. Saya bahkan tidak lagi mendengar kabar tentang dia. Tetapi  hari ini saya mengingat kembali apa yang dia katakan.
Saya mengingat ayah saya dan mengingat dia. Mereka tidak melihat saya seperti saya tidak melihat mereka tetapi saya sedang berada di sini di pusara mereka tempat suatu saat mereka akan dibangkitkan.