Kami bertemu kembali setelah berpisah selama 22
tahun. Satu
kurun waktu yang cukup panjang yang selalu terisi dengan berbagai masalah dalam
kehidupan kami. Masalah yang tidak pernah berakhir walaupun kami sama-sama
merasa bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar, dan hal tersebut terbukti
pada hari ini.
Seperti ketika kami masih kanak-kanak, setiap kali
kami berdua jalan sama-sama, kami selalu berangkulan. Saya selalu meletakkan
tangan saya di bahunya demikian juga dengannya. Jika kami melakukan ini kami
selalu melakukannya dengan gembira bahwa kami adalah sahabat yang tidak akan
terpisahkan. Kami berjanji jika pun kami terpisah maka pada saat kami bertemu
kembali kami akan berpelukan sebagai tanda bahwa persahabatan kami abadi. Janji
itu kami pegang seperti yang terjadi hari ini.
Saat kami sama-sama remaja, kami adalah kumpulan dari anak-anak yang
memiliki keinginan dan angan-angan. Kami sadari bahwa kemungkinan untuk
mencapainya pastilah sangat kecil. Tetapi kami tidak berhenti berkhayal, karena
kami tahu dengan berkhayal kami tidak merugikan orang lain. Kami hanya ingin
mendapatkan kebahagiaan sekalipun itu hanya di khayalan kami.
Kami terpaksa berkhayal mendapatkan kebahagiaan
karena kami berdua sama-sama tidak memiliki ayah. Ayahnya meninggalkan dia dan
adik-adiknya dan menikah dengan wanita lain. Sementara saya kehilangan ayah
karena kembali kepada Bapa di sorga. Untuk
masalah kehilangan ini kami berbeda pendapat dan kami akan membicarakannya
dengan mata sembab. Menurutnya rasa sakit dari kehilangan yang saya alami lebih
ringan daripada kehilangan yang dia alami. Sementara saya merasa rasa sakit
dari kehilangan yang dia alami jauh lebih ringan daripada yang saya alami. Bagi
saya, seandainya dia ingin bertemu dengan ayahnya dia masih dapat melakukannya
karena ayahnya masih hidup. Tetapi baginya jauh lebih baik jika ayahnya telah
meninggal sehingga dia dan keluarganya tidak melihat lagi apa yang diperbuat
oleh ayahnya di dunia ini.
Hari ini setelah 22 tahun berlalu, kami bertemu
lagi. Sama-sama tidak memiliki ayah tetapi sama-sama telah menjadi ayah bagi
sepasang anak kami masing-masing.
Kami kembali berpelukan tetapi kali ini diiringi rasa sedih yang sangat dalam.
Kami tidak lagi dapat berkhayal tentang sesuatu yang pernah kami lakukan.
Kesedihan ini adalah kesedihan yang sangat melukai saya. Kami sama-sama telah
kehilangan ayah, tetapi kali ini saya juga kehilangan ibu, orang yang kepadanya
saya berbagi khayalan dan kesedihan. Baginya kesedihan yang saya alami mungkin
belum dialaminya karena dia masih memiliki seorang ibu yang mengasihinya dengan
tulus.
Dalam pelukan untuk menghibur saya, saya mendengar suaranya, “Kita tidak
dapat bersahabat seperti Tuhan Yesus yang rela menyerahkan nyawa-Nya, tetapi
kamu kan pernah mengatakan bahwa sahabat adalah sahabat sampai mati. Apapun
yang hilang atau diambil dari kita, kita akan rasakan bersama.” Saya hanya bisa diam, karena kehilangan ibu
adalah kehilangan separuh hidup bahkan lebih dari sahabat, tetapi saya bangga
memiliki sahabat dari Tuhan.
