Thursday, September 11, 2014
Monday, September 8, 2014
Adik Terkasih
Dia berdiri di bawah tiang
penopang lampu pengatur lalulintas sambil mengendong adiknya yang kira-kira
berusia setahun. Sesekali diciumi adiknya dengan gemas sambil
menggoyang-goyangkan plastik bekas pembungkus permen yang berisi uang recehan
pemberian orang-orang yang iba melihatnya. Dia tersenyum gembira ketika adiknya
menggeliat mencoba menggapai uang tersebut.
Ketika lampu merah
menyala, dia mendekati sebuah mobil mewah yang berhenti sambil menyanyikan
sebuah lagu pop dengan suara falsnya. Tetapi orang yang ada di dalam mobil
tidak bereaksi sampai mobil tersebut bergerak meninggalkan dia dan
adiknya.
Sambil membetulkan posisi gendongannya, kembali
diciumnya adiknya seolah dia menunjukkan bahwa dia tidak peduli ketika orang
lain tidak peduli pada apa yang telah dan sedang dilakukannya. Dia tidak
kelihatan sedih ketika orang-orang mengabaikannya karena dia hanya peduli
kepada adiknya yang manja dalam gendongannya.
“Apa kamu tidak capek menggendong adikmu? Apa kamu
tidak takut adikmu sakit? Memangnya orang tua kamu kemana?” Demikian pertanyaan
yang selalu didengarnya, seolah peduli dan mengasihinya.
Memang dia adalah salah satu orang dari begitu
banyak orang yang mencari rejeki dengan cara membuat orang lain terharu melihat
adik kecilnya. Rasanya dia sedang melakukan dosa penipuan atau apalah namanya,
tetapi sebenarnya dia sedang memberi pelajaran kepada banyak orang tentang
salah satu bagian dari apa yang dinamakan kasih.
Orang tuanya tidak mengasihi dia dan adiknya
sehingga membiarkan dia berada di jalanan menjadi peminta-minta. Orang yang
bermobil mewahpun tidak mengasihinya ketika dia menghampiri mereka. Mereka
berbuat seolah dia adalah kotoran yang harus dijauhi. Demikian juga dengan
orang-orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Tetapi dia begitu mengasihi adiknya. Dia
mengendongnya dan menciuminya ketika orang lain tidak peduli kepadanya. Dia
membawanya bukan sebagai beban tetapi sebagai sesuatu yang dikasihinya dan
menjadi temannya dimanapun dia berada. Adiknya adalah penghiburannya.
Dan tanpa sadar dia yang baru berusia kira-kira sembilan tahun telah
berhasil menitikkan air mata seorang hamba Tuhan yang malu dan merasa hina
ketika menatapnya dari kejauhan.
Siapa Yang Lebih Hebat?
Setiap kali bepergian dengan menggunakan bus kota
banyak kali saya berjumpa dengan pengamen-pengamen cilik yang tampil apa
adanya, khas anak-anak. Jika ada kesempatan saya juga sering berbincang dengan
mereka tentang apa yang sedang mereka lakukan bahkan apa yang mendorong mereka
melakukan hal tersebut. Biasanya jawaban mereka adalah jawaban yang standar
yaitu untuk biaya sekolah.
Hari
ini pun saya berjumpa dengan seorang pengamen cilik. Saya tidak sempat
melihatnya menyanyi atau melakukan sesuatu yang biasa saya temukan. Saat saya
duduk dibangku paling belakang (tempat biasa saya gunakan untuk berbincang
dengan pengamen) saya melihat seorang pengamen cilik lagi tertunduk diam
dihadapan seorang ibu yang kelihatannya terpelajar.
Sepintas
saya mendengar suara ibu tersebut menggurui sang pengamen cilik. “Kamu jangan
ngamen lagi, mendingan kamu sekolah atau bantu orang tua di rumah. Kalau kamu
ngamen, kamu akan terbiasa dengan duit dan kamu akan keenakan”.
Saya
beringsut mendekati sang pengamen cilik sampil menepuk pundaknya. Si ibu
menatapi saya, “Pak, anak-anak seperti ini sulit sekali berubah dari jalanan ke
kehidupan normal. Mereka sudah terbiasa dengan duit. Saat dewasa, mereka
biasanya menjadi preman-preman yang
meresahkan orang lain. Makanya saya bilang ke dia
agar sekolah atau bantu orang tua di rumah saja.” Saya tersenyum mendengar
ceramahnya.
Kemudian ceramah berlanjut berupa
kesaksian. “Anak-anak sekarang memang sulit. Mereka maunya yang enak-enak saja.
Anak saya juga nggak mau bantu saya meskipun hanya untuk pekerjaan rumah. Mereka
hanya mau duit, dan bersantai-santai. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada
mereka di masa depan.”
Saya
memegang tangan sang pengamen cilik dan berbisik, “Kamu masih sekolah?” Dia
mengangguk, “Setelah ini saya pulang untuk sekolah” Saya tersentuh, “Kamu lebih
hebat dari orang-orang dalam bus ini jika kamu ngamen untuk bantu orang tua dan
untuk biaya sekolah. Ada orang sekolah
dibiayai oleh orang tua mereka tetapi kamu biayai diri sendiri.” Dia menatap
saya, “Saya lebih hebat dari mereka? Masak sih?”
Saya merangkul bahunya, “Iya. Kalau kamu tetap sekolah, kamu akan tahu
bahwa kamu hebat. Tuhan Yesus yang saya percaya mengasihimu.”
Pantaskah Membenci?
Saya termasuk anak yang tidak begitu baik di
antara teman-teman sebaya saya sehingga beberapa orang tua melarang anak-anak
mereka bergaul dengan saya. Tidak jarang saya dikata-katai di depan orang
karena kelakuan saya. Anehnya saya tidak pernah merasa harus menangggapi atau
marah kepada mereka. Saya merasa tidak perlu mempedulikan mereka bahkan saya
menganggap mereka tidak ada.
Ketika saya lahir baru karena saya menerima
pengampunan dari Tuhan Yesus, saya berjanji akan memberitakan injil anugerah
Allah pertama-tama kepada orang terdekat saya. Tetapi ternyata semua tidak
berjalan seperti yang saya bayangkan. Saya tetap ditolak.
Karena saya selalu membicarakan kasih Tuhan yang
dinyatakan dalam Alkitab, maka saya selalu mendengar kata-kata,
“Awas... Farisi modern lewat.”
Awalnya saya tidak mengubris mereka, tetapi
lama-kelamaan saya menjadi tidak sabar. Saya menjadi benci dan marah. Saya
merasa mereka harus diberitahu bahwa saya telah berubah dan menjadi orang yang
beriman yang dijamin Tuhan Yesus. Saya merasa tidak merugikan orang ketika saya
menyampaikan kabar baik. Mengapa saya masih dimusuhi juga?
Suatu hari saya menghadiri ibadah di rumah satu
keluarga. Karena Pendeta yang harusnya melayani tidak hadir maka untuk mengisi
khotbah, salah seorang yang sering menyebut saya sebagai Farisi modern atau
nabi palsu mengisinya dengan membacakan bagian dari buku Renungan Harian. Saya
berpikir dia akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang saya.
Renungan yang dibacanya berbicara tentang seorang
nabi yang ditolak dari antara saudaranya. Saya tidak begitu peduli karena saya
tahu saya bukan seorang nabi. Tetapi setelah selesai membacakan renungannya
orang tersebut datang memeluk saya dengan air mata berlinang memohon maaf
kepada saya. Saya bingung melihat apa yang terjadi, apalagi ketika beberapa
orang juga turut meminta maaf.
Saat itu saya merasa amat bersalah karena mereka tidak tahu bahwa
sebenarnya saya mulai membenci mereka. Tuhan menegur saya dan menunjukkan bahwa
jika sebelum lahir baru saya bisa menerima orang yang mengabaikan saya, mengapa
sekarang tidak? Saya belajar bahwa mereka harus dikasihi dan jika saya membenci
maka itu berarti saya lebih jahat dari saat saya belum lahir baru.
Sebelum Mata Tertutup Selamanya
Saya menyapanya dengan sebutan ‘nenek’, karena dia adalah salah seorang
yang sangat dihormati di desa kami. Dia sangat baik kepada saya dan selalu
menegur saya dengan keras saat saya bersama teman-teman menjalani kehidupan
remaja yang amburadul.
Pada saat saya menerima
Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, saya menceritakan hal tersebut
kepadanya.
“Nenek telah puluhan tahun menjadi pelayan di
gereja, nenek tahu mana yang sungguh-sungguh percaya dan mana yang tidak!” Senyumnya sinis menanggapi pernyataan saya.
Saya hanya terdiam, tetapi saya bertekad untuk menunjukkan kepadanya bahwa saya
sungguh-sungguh telah menjadi anak Tuhan.
Saya membaca Alkitab dan bertekad menyelesaikan
pembacaan dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Tetapi hal itu belum ada
apa-apanya di mata Nenek. Setiap kali dia melintas di depan rumah saya dan
melihat saya membaca Alkitab dia akan mampir dan menegur saya.
“Hati-hati dengan Alkitab. Jangan sampai Tuhan
Yesus bosan melihatmu baca Alkitab setiap hari.” Sejak saat itu saya berusaha agar dia tidak
melihat saya pada saat saya sedang membaca Alkitab.
Beberapa bulan kemudian,
seorang cucu nenek mengatakan kepada saya bahwa Nenek sakit parah. Rumah sakit
yang merawatnya telah meminta kepada keluarganya agar dia dirawat di rumah
saja. Bergegas saya mengunjunginya dan ketika melihatnya terbaring lemah di
tempat tidurnya saya sangat terharu.
Bagian tubuhnya yang masih bisa digerakkan hanyalah bagian leher saja.
Saya memeluknya dan
berbisik, “Nenek tahu bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk mengampuni
seluruh dosa Nenek, kan?” Dia mengangguk.
“Nenek percaya bahwa Dia menyediakan hidup kekal
kepada orang yang percaya kepada-Nya, kan?” Dia kembali mengangguk diiringi
tetesan airmata di pipinya yang keriput.
Tiba-tiba tangannya
menggenggam tangan saya dan berucap lirih, “Maafkan nenek, ya? Nenek malu
mengakui bahwa nenek sebenarnya baru percaya Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh
saat melihat perubahan pada sikap hidupmu.”
Suaranya terbata-bata
dan lemah. Kemudian suasana menjadi hening dan teduh sekali.
Subscribe to:
Posts (Atom)

