Kembali lagi ke kampung saat saya
dibesarkan adalah sukacita sekalipun ada banyak sekali tempat telah berubah.
Salah satu tempat yang tidak banyak berubah hanyalah pekuburan di ujung
kampung. Kesanalah langkah kaki saya tertuju. Saya ingin melihat kuburan ayah
saya dan menikmati kesendirian seperti yang dulu saya lakukan ketika rindu
kepada sosok ayah datang menyergap.
Ketika saya merindukan ayah,
saya suka duduk di atas pusara ayah sambil melamunkan kenangan indah bersamanya
sekalipun saya hanya menikmatinya sampai umur 12 tahun. Jika berada di sini
saya tidak pernah menangis, saya hanya berbicara dalam hati saya karena saya
sadar ayah saya tidak melihat saya apalagi mendengar apa yang saya katakan.
Memang saat itu saya belum
menjadi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sehingga saya belum tahu apa yang
dikatakan Alkitab tentang orang yang telah meninggal. Saya hanya tahu bahwa
ayah sedang beristirahat panjang seperti yang tertulis di pusaranya. Itu
sebabnya saya tidak pernah merasa takut berada di sini.
Setelah beberapa saat dan saya
harus kembali ke rumah, langkah saya terhenti ketika mata saya sempat membaca
sebuah nama di atas pusara yang tidak jauh dari pusara ayah saya. Nama itu
sangat saya kenal karena saat dia hidup saya pernah menyakitinya. Saat itu saya
mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas ketika dia sedang berkhotbah. Tetapi
dengan sabar dia mengampuni saya.
Saya teringat kembali ketika
dia menatap saya dengan air mata membasahi pipinya. “Saya tidak akan
membencimu. Tidak akan…! Saya tahu kamu tidak jahat. Kamu hanya tidak mengerti
bahwa apa yang kamu lakukan itu salah dan sangat menyakiti saya. Kamu gembira
sejenak ketika melihat saya tersakiti tetapi setelah itu saya tahu kamu
menyesalinya.” Waktu itu saya hanya terdiam.
“Saya akan selalu berdoa untuk
kamu. Saya meminta kepada Tuhan Yesus dan yakin bahwa suatu hari nanti Tuhan
Yesus pasti akan membuat engkau menjadi milik-Nya dan engkau akan menjadi hamba-Nya.
Jika itu terjadi tolong ingat bahwa saya pernah mengatakannya.”
Beberapa tahun setelah itu apa
yang dia katakan memang terjadi. Saya menjadi hamba Tuhan tetapi saya tidak
pernah bertemu lagi dengannya. Saya bahkan tidak lagi mendengar kabar tentang
dia. Tetapi hari ini saya mengingat
kembali apa yang dia katakan.
Saya mengingat ayah saya dan mengingat dia. Mereka
tidak melihat saya seperti saya tidak melihat mereka tetapi saya sedang berada
di sini di pusara mereka tempat suatu saat mereka akan dibangkitkan.
No comments:
Post a Comment