Friday, August 22, 2014

SAYA MASIH MENGINGATNYA



Kembali lagi ke kampung saat saya dibesarkan adalah sukacita sekalipun ada banyak sekali tempat telah berubah. Salah satu tempat yang tidak banyak berubah hanyalah pekuburan di ujung kampung. Kesanalah langkah kaki saya tertuju. Saya ingin melihat kuburan ayah saya dan menikmati kesendirian seperti yang dulu saya lakukan ketika rindu kepada sosok ayah datang menyergap.
Ketika saya merindukan ayah, saya suka duduk di atas pusara ayah sambil melamunkan kenangan indah bersamanya sekalipun saya hanya menikmatinya sampai umur 12 tahun. Jika berada di sini saya tidak pernah menangis, saya hanya berbicara dalam hati saya karena saya sadar ayah saya tidak melihat saya apalagi mendengar apa yang saya katakan.
Memang saat itu saya belum menjadi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sehingga saya belum tahu apa yang dikatakan Alkitab tentang orang yang telah meninggal. Saya hanya tahu bahwa ayah sedang beristirahat panjang seperti yang tertulis di pusaranya. Itu sebabnya saya tidak pernah merasa takut berada di sini.
Setelah beberapa saat dan saya harus kembali ke rumah, langkah saya terhenti ketika mata saya sempat membaca sebuah nama di atas pusara yang tidak jauh dari pusara ayah saya. Nama itu sangat saya kenal karena saat dia hidup saya pernah menyakitinya. Saat itu saya mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas ketika dia sedang berkhotbah. Tetapi dengan sabar dia mengampuni saya.
Saya teringat kembali ketika dia menatap saya dengan air mata membasahi pipinya. “Saya tidak akan membencimu. Tidak akan…! Saya tahu kamu tidak jahat. Kamu hanya tidak mengerti bahwa apa yang kamu lakukan itu salah dan sangat menyakiti saya. Kamu gembira sejenak ketika melihat saya tersakiti tetapi setelah itu saya tahu kamu menyesalinya.” Waktu itu saya hanya terdiam.
“Saya akan selalu berdoa untuk kamu. Saya meminta kepada Tuhan Yesus dan yakin bahwa suatu hari nanti Tuhan Yesus pasti akan membuat engkau menjadi milik-Nya dan engkau akan menjadi hamba-Nya. Jika itu terjadi tolong ingat bahwa saya pernah mengatakannya.”
Beberapa tahun setelah itu apa yang dia katakan memang terjadi. Saya menjadi hamba Tuhan tetapi saya tidak pernah bertemu lagi dengannya. Saya bahkan tidak lagi mendengar kabar tentang dia. Tetapi  hari ini saya mengingat kembali apa yang dia katakan.
Saya mengingat ayah saya dan mengingat dia. Mereka tidak melihat saya seperti saya tidak melihat mereka tetapi saya sedang berada di sini di pusara mereka tempat suatu saat mereka akan dibangkitkan.

No comments:

Post a Comment