Monday, August 25, 2014

Kau Pernah Mengatakannya

            Saya baru saja melambaikan tangan kepada anak sulung saya yang berangkat ke tempat kursusnya, pada saat telpon berdering. Saya  bergegas hendak mengangkatnya tetapi deringnya tiba-tiba mati. Saya berpikir itu pasti telpon dari teman anak saya.
            Baru saja saya hendak ke dapur, telpon berdering lagi. Perlahan saya mengangkatnya dan terdengar suara si penelpon menyebut nama saya, tetapi nama itu adalah nama yang biasa di sapa oleh teman-teman sekolah saya. Saya sadar, ini pasti teman sekolah saya dahulu.
Dugaan saya benar dan pembicaraanpun menjadi ramai karena kami saling bertanya tentang status masing-masing setelah lama berpisah.
            “Suami saya seorang Pendeta.” Suaranya sangat ceria.
            “Koq, kamu bisa menikah dengan Pendeta? Dulu kamu tidak suka sama yang orang yang berkhotbah. Mengapa berubah?” Saya mengingatkan masa lalu kami sambil tertawa.
            “Iya, harusnya begitu. Tetapi kamu ingat nggak, waktu kita selesai mengikuti upacara bendera? Waktu itu kamu bilang, kamu sangat yakin bahwa kamu pasti masuk surga karena Tuhan Yesus telah menebus dosamu?” Lalu dia kembali menceritakan kisah itu.
            “Saya lama merenungkan itu. Saya berpikir kamu terlalu berlebihan dan itu sangat mengganggu saya tetapi setiap kali saya bertemu denganmu saya selalu melihat kamu menghadapi sesuatu dengan begitu tenang dan sukacita. Apalagi waktu kamu katakan bahwa saya pun dapat memiliki itu jika saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi saya.” Dia tertawa.
            “Sudah lama sekali saya mencari alamatmu atau paling tidak nomor telponmu. Saya ingin berterimakasih karena kamu pernah mengatakan sesuatu yang sangat berharga. Sekarang saya melayani Tuhan bersama keluarga saya dan saya bertekad menyampaikan kepada orang lain
bahwa Tuhan Yesus juga mau mengampuni dosa mereka.”
            Setelah telpon ditutup, saya duduk sendirian. Saya tidak pernah menyangka bahwa pembicaraan yang hanya sepintas lalu pada saat kami masih SMP dulu ternyata dipakai Tuhan untuk membawa orang kepada-Nya. Hari ini Tuhan mengingatkan saya bahwa saya pernah mengatakan sesuatu dan sesuatu itu adalah Injil.
Ternyata memberitakan injil itu tidak pernah sia-sia.

No comments:

Post a Comment