Saya baru saja melambaikan
tangan kepada anak sulung saya yang berangkat ke tempat kursusnya, pada saat
telpon berdering. Saya bergegas hendak
mengangkatnya tetapi deringnya tiba-tiba mati. Saya berpikir itu pasti telpon
dari teman anak saya.
Baru saja saya hendak ke
dapur, telpon berdering lagi. Perlahan saya mengangkatnya dan terdengar suara
si penelpon menyebut nama saya, tetapi nama itu adalah nama yang biasa di sapa
oleh teman-teman sekolah saya. Saya sadar, ini pasti teman sekolah saya dahulu.
Dugaan saya benar dan pembicaraanpun menjadi ramai
karena kami saling bertanya tentang status masing-masing setelah lama berpisah.
“Suami saya seorang
Pendeta.” Suaranya sangat ceria.
“Koq, kamu bisa menikah
dengan Pendeta? Dulu kamu tidak suka sama yang orang yang berkhotbah. Mengapa
berubah?” Saya mengingatkan masa lalu kami sambil tertawa.
“Iya, harusnya begitu.
Tetapi kamu ingat nggak, waktu kita selesai mengikuti upacara bendera? Waktu
itu kamu bilang, kamu sangat yakin bahwa kamu pasti masuk surga karena Tuhan
Yesus telah menebus dosamu?” Lalu dia kembali menceritakan kisah itu.
“Saya lama merenungkan
itu. Saya berpikir kamu terlalu berlebihan dan itu sangat mengganggu saya
tetapi setiap kali saya bertemu denganmu saya selalu melihat kamu menghadapi
sesuatu dengan begitu tenang dan sukacita. Apalagi waktu kamu katakan bahwa
saya pun dapat memiliki itu jika saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat
pribadi saya.” Dia tertawa.
“Sudah lama sekali saya
mencari alamatmu atau paling tidak nomor telponmu. Saya ingin berterimakasih
karena kamu pernah mengatakan sesuatu yang sangat berharga. Sekarang saya
melayani Tuhan bersama keluarga saya dan saya bertekad menyampaikan kepada
orang lain
bahwa Tuhan Yesus juga mau mengampuni dosa mereka.”
Setelah telpon ditutup,
saya duduk sendirian. Saya tidak pernah menyangka bahwa pembicaraan yang hanya
sepintas lalu pada saat kami masih SMP dulu ternyata dipakai Tuhan untuk
membawa orang kepada-Nya. Hari ini Tuhan mengingatkan saya bahwa saya pernah
mengatakan sesuatu dan sesuatu itu adalah Injil.
Ternyata memberitakan injil itu tidak pernah sia-sia.
No comments:
Post a Comment