Saturday, May 31, 2014

Penghalang dan Tekad


            Berada di sekolah adalah suatu kegembiraan baginya. Bukan hanya karena dia bertemu dengan sahabat-sahabatnya atau karena sesuatu yang lain, tetapi karena dia senang mendapatkan pelajaran dari guru-gurunya. Baginya sekolah adalah tempat dia menimba banyak pengetahuan dan membuat dia dapat memahami banyak hal.
            Tidak jarang di rumahnya terjadi percecokan kecil apabila dia sehat tetapi harus tidak ke sekolah karena terpaksa harus menghadiri ibadah atau sesuatu yang lain pada saat ada sanak saudara yang meninggal dunia, atau alasan lain yang sangat mendesak.
            Semangat belajarnya memang membanggakan sekaligus membuat hati teriris sedih. Mengapa? Dia sangat bangga jika ada saudaranya yang memberinya tas dan sepatu sekolah meskipun hanya tas dan sepatu sekolah bekas. Baginya pemberian tersebut adalah sesuatu yang sangat memacu semangatnya. Dia akan meletakkan barang-barang tersebut di dekat tempat tidurnya dan menatapinya tanpa letih. Sungguh hal itu adalah sesuatu yang dirasanya sebagai harta terindah yang dimilikinya.
            Suatu hari hujan turun seharian penuh. Sepatu dan tas sekolahnya basah dan dia tidak mempunyai cadangannya sedangkan besok hari harus ke sekolah lagi. Dia menyesali dirinya karena telah menggunakan sepatunya sehingga harus basah. Tetapi jika dia tidak memakainya bukankah kakinya akan terluka ketika manapaki jalanan berbatu tajam?
Dalam kesedihannya dicucinya sepatunya dengan harapan esok pagi dapat digunakannya lagi. Ketika malam, saat dia harusnya tidur, pikirannya masih penuh harapan agar sepatunya dapat digunakan pada besok hari. Tetapi hujan tidak berhenti dan sepatunya tetap basah. Sebasah matanya yang dipenuhi kesedihan dan ketakutan tidak dapat ke sekolah.
Saat  hatinya dibungkus duka, ayahnya menawarkan kepadanya agar sepatunya di keringkan dengan cara diasapin ditungku dapur karena mereka tidak memiliki kompor. Hatinya berbunga karena dia yakin akan apa yang ayahnya lakukan.
Ketika sepatunya seharusnya kering yang terjadi justru adalah bagian dari sepatunya terbakar. Kesedihannya tidak lagi karena sepatu basah tetapi karena tidak mempunyai sepatu lagi. Apakah ini akan membuatnya tidak ke sekolah? Ternyata tidak...! Sepatu yang bagi orang lain dianggap rusak baginya tetaplah sepatu dan bukan suatu penghalang. (Arly)

No comments:

Post a Comment