Setiap kali bepergian dengan menggunakan bus kota
banyak kali saya berjumpa dengan pengamen-pengamen cilik yang tampil apa
adanya, khas anak-anak. Jika ada kesempatan saya juga sering berbincang dengan
mereka tentang apa yang sedang mereka lakukan bahkan apa yang mendorong mereka
melakukan hal tersebut. Biasanya jawaban mereka adalah jawaban yang standar
yaitu untuk biaya sekolah.
Hari
ini pun saya berjumpa dengan seorang pengamen cilik. Saya tidak sempat
melihatnya menyanyi atau melakukan sesuatu yang biasa saya temukan. Saat saya
duduk dibangku paling belakang (tempat biasa saya gunakan untuk berbincang
dengan pengamen) saya melihat seorang pengamen cilik lagi tertunduk diam
dihadapan seorang ibu yang kelihatannya terpelajar.
Sepintas
saya mendengar suara ibu tersebut menggurui sang pengamen cilik. “Kamu jangan
ngamen lagi, mendingan kamu sekolah atau bantu orang tua di rumah. Kalau kamu
ngamen, kamu akan terbiasa dengan duit dan kamu akan keenakan”.
Saya
beringsut mendekati sang pengamen cilik sampil menepuk pundaknya. Si ibu
menatapi saya, “Pak, anak-anak seperti ini sulit sekali berubah dari jalanan ke
kehidupan normal. Mereka sudah terbiasa dengan duit. Saat dewasa, mereka
biasanya menjadi preman-preman yang
meresahkan orang lain. Makanya saya bilang ke dia
agar sekolah atau bantu orang tua di rumah saja.” Saya tersenyum mendengar
ceramahnya.
Kemudian ceramah berlanjut berupa
kesaksian. “Anak-anak sekarang memang sulit. Mereka maunya yang enak-enak saja.
Anak saya juga nggak mau bantu saya meskipun hanya untuk pekerjaan rumah. Mereka
hanya mau duit, dan bersantai-santai. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada
mereka di masa depan.”
Saya
memegang tangan sang pengamen cilik dan berbisik, “Kamu masih sekolah?” Dia
mengangguk, “Setelah ini saya pulang untuk sekolah” Saya tersentuh, “Kamu lebih
hebat dari orang-orang dalam bus ini jika kamu ngamen untuk bantu orang tua dan
untuk biaya sekolah. Ada orang sekolah
dibiayai oleh orang tua mereka tetapi kamu biayai diri sendiri.” Dia menatap
saya, “Saya lebih hebat dari mereka? Masak sih?”
Saya merangkul bahunya, “Iya. Kalau kamu tetap sekolah, kamu akan tahu
bahwa kamu hebat. Tuhan Yesus yang saya percaya mengasihimu.”
No comments:
Post a Comment