Monday, September 8, 2014

Siapa Yang Lebih Hebat?

           Setiap kali bepergian dengan menggunakan bus kota banyak kali saya berjumpa dengan pengamen-pengamen cilik yang tampil apa adanya, khas anak-anak. Jika ada kesempatan saya juga sering berbincang dengan mereka tentang apa yang sedang mereka lakukan bahkan apa yang mendorong mereka melakukan hal tersebut. Biasanya jawaban mereka adalah jawaban yang standar yaitu untuk biaya sekolah.
            Hari ini pun saya berjumpa dengan seorang pengamen cilik. Saya tidak sempat melihatnya menyanyi atau melakukan sesuatu yang biasa saya temukan. Saat saya duduk dibangku paling belakang (tempat biasa saya gunakan untuk berbincang dengan pengamen) saya melihat seorang pengamen cilik lagi tertunduk diam dihadapan seorang ibu yang kelihatannya terpelajar.
            Sepintas saya mendengar suara ibu tersebut menggurui sang pengamen cilik. “Kamu jangan ngamen lagi, mendingan kamu sekolah atau bantu orang tua di rumah. Kalau kamu ngamen, kamu akan terbiasa dengan duit dan kamu akan keenakan”.
            Saya beringsut mendekati sang pengamen cilik sampil menepuk pundaknya. Si ibu menatapi saya, “Pak, anak-anak seperti ini sulit sekali berubah dari jalanan ke kehidupan normal. Mereka sudah terbiasa dengan duit. Saat dewasa, mereka biasanya menjadi preman-preman yang
meresahkan orang lain. Makanya saya bilang ke dia agar sekolah atau bantu orang tua di rumah saja.” Saya tersenyum mendengar ceramahnya.
            Kemudian ceramah berlanjut berupa kesaksian. “Anak-anak sekarang memang sulit. Mereka maunya yang enak-enak saja. Anak saya juga nggak mau bantu saya meskipun hanya untuk pekerjaan rumah. Mereka hanya mau duit, dan bersantai-santai. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka di masa depan.”
            Saya memegang tangan sang pengamen cilik dan berbisik, “Kamu masih sekolah?” Dia mengangguk, “Setelah ini saya pulang untuk sekolah” Saya tersentuh, “Kamu lebih hebat dari orang-orang dalam bus ini jika kamu ngamen untuk bantu orang tua dan untuk biaya sekolah. Ada orang  sekolah dibiayai oleh orang tua mereka tetapi kamu biayai diri sendiri.” Dia menatap
saya, “Saya lebih hebat dari mereka? Masak sih?”
             Saya merangkul bahunya, “Iya. Kalau kamu tetap sekolah, kamu akan tahu bahwa kamu hebat. Tuhan Yesus yang saya percaya mengasihimu.” 

No comments:

Post a Comment