Monday, September 8, 2014

Sebelum Mata Tertutup Selamanya

Saya menyapanya dengan sebutan ‘nenek’, karena dia adalah salah seorang yang sangat dihormati di desa kami. Dia sangat baik kepada saya dan selalu menegur saya dengan keras saat saya bersama teman-teman menjalani kehidupan remaja yang amburadul.
            Pada saat saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, saya menceritakan hal tersebut kepadanya.
“Nenek telah puluhan tahun menjadi pelayan di gereja, nenek tahu mana yang sungguh-sungguh percaya dan mana yang tidak!”  Senyumnya sinis menanggapi pernyataan saya. Saya hanya terdiam, tetapi saya bertekad untuk menunjukkan kepadanya bahwa saya sungguh-sungguh telah menjadi anak Tuhan.
Saya membaca Alkitab dan bertekad menyelesaikan pembacaan dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Tetapi hal itu belum ada apa-apanya di mata Nenek. Setiap kali dia melintas di depan rumah saya dan melihat saya membaca Alkitab dia akan mampir dan menegur saya.
“Hati-hati dengan Alkitab. Jangan sampai Tuhan Yesus bosan melihatmu baca Alkitab setiap hari.”  Sejak saat itu saya berusaha agar dia tidak melihat saya pada saat saya sedang membaca Alkitab.
            Beberapa bulan kemudian, seorang cucu nenek mengatakan kepada saya bahwa Nenek sakit parah. Rumah sakit yang merawatnya telah meminta kepada keluarganya agar dia dirawat di rumah saja. Bergegas saya mengunjunginya dan ketika melihatnya terbaring lemah di tempat tidurnya saya sangat terharu.  Bagian tubuhnya yang masih bisa digerakkan hanyalah bagian leher saja.
            Saya memeluknya dan berbisik, “Nenek tahu bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk mengampuni seluruh dosa Nenek, kan?” Dia mengangguk.
            Nenek percaya bahwa Dia menyediakan hidup kekal kepada orang yang percaya kepada-Nya, kan?” Dia kembali mengangguk diiringi tetesan airmata di pipinya yang keriput.
            Tiba-tiba tangannya menggenggam tangan saya dan berucap lirih, “Maafkan nenek, ya? Nenek malu mengakui bahwa nenek sebenarnya baru percaya Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh saat melihat perubahan pada sikap hidupmu.”
            Suaranya terbata-bata dan lemah. Kemudian suasana menjadi hening dan teduh sekali. 

No comments:

Post a Comment