Saya menyapanya dengan sebutan ‘nenek’, karena dia adalah salah seorang
yang sangat dihormati di desa kami. Dia sangat baik kepada saya dan selalu
menegur saya dengan keras saat saya bersama teman-teman menjalani kehidupan
remaja yang amburadul.
Pada saat saya menerima
Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, saya menceritakan hal tersebut
kepadanya.
“Nenek telah puluhan tahun menjadi pelayan di
gereja, nenek tahu mana yang sungguh-sungguh percaya dan mana yang tidak!” Senyumnya sinis menanggapi pernyataan saya.
Saya hanya terdiam, tetapi saya bertekad untuk menunjukkan kepadanya bahwa saya
sungguh-sungguh telah menjadi anak Tuhan.
Saya membaca Alkitab dan bertekad menyelesaikan
pembacaan dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Tetapi hal itu belum ada
apa-apanya di mata Nenek. Setiap kali dia melintas di depan rumah saya dan
melihat saya membaca Alkitab dia akan mampir dan menegur saya.
“Hati-hati dengan Alkitab. Jangan sampai Tuhan
Yesus bosan melihatmu baca Alkitab setiap hari.” Sejak saat itu saya berusaha agar dia tidak
melihat saya pada saat saya sedang membaca Alkitab.
Beberapa bulan kemudian,
seorang cucu nenek mengatakan kepada saya bahwa Nenek sakit parah. Rumah sakit
yang merawatnya telah meminta kepada keluarganya agar dia dirawat di rumah
saja. Bergegas saya mengunjunginya dan ketika melihatnya terbaring lemah di
tempat tidurnya saya sangat terharu.
Bagian tubuhnya yang masih bisa digerakkan hanyalah bagian leher saja.
Saya memeluknya dan
berbisik, “Nenek tahu bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk mengampuni
seluruh dosa Nenek, kan?” Dia mengangguk.
“Nenek percaya bahwa Dia menyediakan hidup kekal
kepada orang yang percaya kepada-Nya, kan?” Dia kembali mengangguk diiringi
tetesan airmata di pipinya yang keriput.
Tiba-tiba tangannya
menggenggam tangan saya dan berucap lirih, “Maafkan nenek, ya? Nenek malu
mengakui bahwa nenek sebenarnya baru percaya Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh
saat melihat perubahan pada sikap hidupmu.”
Suaranya terbata-bata
dan lemah. Kemudian suasana menjadi hening dan teduh sekali.
No comments:
Post a Comment