Monday, September 8, 2014

Adik Terkasih


            Dia berdiri di bawah tiang penopang lampu pengatur lalulintas sambil mengendong adiknya yang kira-kira berusia setahun. Sesekali diciumi adiknya dengan gemas sambil menggoyang-goyangkan plastik bekas pembungkus permen yang berisi uang recehan pemberian orang-orang yang iba melihatnya. Dia tersenyum gembira ketika adiknya menggeliat mencoba menggapai uang tersebut.
            Ketika lampu merah menyala, dia mendekati sebuah mobil mewah yang berhenti sambil menyanyikan sebuah lagu pop dengan suara falsnya. Tetapi orang yang ada di dalam mobil tidak bereaksi sampai mobil tersebut bergerak meninggalkan dia dan adiknya. 
Sambil membetulkan posisi gendongannya, kembali diciumnya adiknya seolah dia menunjukkan bahwa dia tidak peduli ketika orang lain tidak peduli pada apa yang telah dan sedang dilakukannya. Dia tidak kelihatan sedih ketika orang-orang mengabaikannya karena dia hanya peduli kepada adiknya yang manja dalam gendongannya.
“Apa kamu tidak capek menggendong adikmu? Apa kamu tidak takut adikmu sakit? Memangnya orang tua kamu kemana?” Demikian pertanyaan yang selalu didengarnya, seolah peduli dan mengasihinya.
Memang dia adalah salah satu orang dari begitu banyak orang yang mencari rejeki dengan cara membuat orang lain terharu melihat adik kecilnya. Rasanya dia sedang melakukan dosa penipuan atau apalah namanya, tetapi sebenarnya dia sedang memberi pelajaran kepada banyak orang tentang salah satu bagian dari apa yang dinamakan kasih.
Orang tuanya tidak mengasihi dia dan adiknya sehingga membiarkan dia berada di jalanan menjadi peminta-minta. Orang yang bermobil mewahpun tidak mengasihinya ketika dia menghampiri mereka. Mereka berbuat seolah dia adalah kotoran yang harus dijauhi. Demikian juga dengan orang-orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Tetapi dia begitu mengasihi adiknya. Dia mengendongnya dan menciuminya ketika orang lain tidak peduli kepadanya. Dia membawanya bukan sebagai beban tetapi sebagai sesuatu yang dikasihinya dan menjadi temannya dimanapun dia berada. Adiknya adalah penghiburannya.
            Dan tanpa sadar dia yang baru berusia kira-kira sembilan tahun telah berhasil menitikkan air mata seorang hamba Tuhan yang malu dan merasa hina ketika menatapnya dari kejauhan. 

No comments:

Post a Comment