Dia berdiri di bawah tiang
penopang lampu pengatur lalulintas sambil mengendong adiknya yang kira-kira
berusia setahun. Sesekali diciumi adiknya dengan gemas sambil
menggoyang-goyangkan plastik bekas pembungkus permen yang berisi uang recehan
pemberian orang-orang yang iba melihatnya. Dia tersenyum gembira ketika adiknya
menggeliat mencoba menggapai uang tersebut.
Ketika lampu merah
menyala, dia mendekati sebuah mobil mewah yang berhenti sambil menyanyikan
sebuah lagu pop dengan suara falsnya. Tetapi orang yang ada di dalam mobil
tidak bereaksi sampai mobil tersebut bergerak meninggalkan dia dan
adiknya.
Sambil membetulkan posisi gendongannya, kembali
diciumnya adiknya seolah dia menunjukkan bahwa dia tidak peduli ketika orang
lain tidak peduli pada apa yang telah dan sedang dilakukannya. Dia tidak
kelihatan sedih ketika orang-orang mengabaikannya karena dia hanya peduli
kepada adiknya yang manja dalam gendongannya.
“Apa kamu tidak capek menggendong adikmu? Apa kamu
tidak takut adikmu sakit? Memangnya orang tua kamu kemana?” Demikian pertanyaan
yang selalu didengarnya, seolah peduli dan mengasihinya.
Memang dia adalah salah satu orang dari begitu
banyak orang yang mencari rejeki dengan cara membuat orang lain terharu melihat
adik kecilnya. Rasanya dia sedang melakukan dosa penipuan atau apalah namanya,
tetapi sebenarnya dia sedang memberi pelajaran kepada banyak orang tentang
salah satu bagian dari apa yang dinamakan kasih.
Orang tuanya tidak mengasihi dia dan adiknya
sehingga membiarkan dia berada di jalanan menjadi peminta-minta. Orang yang
bermobil mewahpun tidak mengasihinya ketika dia menghampiri mereka. Mereka
berbuat seolah dia adalah kotoran yang harus dijauhi. Demikian juga dengan
orang-orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Tetapi dia begitu mengasihi adiknya. Dia
mengendongnya dan menciuminya ketika orang lain tidak peduli kepadanya. Dia
membawanya bukan sebagai beban tetapi sebagai sesuatu yang dikasihinya dan
menjadi temannya dimanapun dia berada. Adiknya adalah penghiburannya.
Dan tanpa sadar dia yang baru berusia kira-kira sembilan tahun telah
berhasil menitikkan air mata seorang hamba Tuhan yang malu dan merasa hina
ketika menatapnya dari kejauhan.
No comments:
Post a Comment