Thursday, June 12, 2014

Rasa Sakit Itu



Ketika mamanya yang adalah orang yang paling dikasihi terbaring lemah dipembaringan karena sakit, rasa di hatinya adalah kesedihan yang menusuk sangat pahit. Selama 24 tahun dia dicintai dan menerima begitu banyak penerangan dari bintang-bintang nasehat dan pelajaran tentang kehidupan. Karena cinta yang ada padanya adalah cinta yang diterimanya dari orang yang telah melahirkan, membesarkan dan yang mengajarinya melangkahkan kaki di kehidupan yang dia hidupi sekarang ini.
Masih segar di ingatannya saat orang yang sangat dicintainya ini membacakan ayat-ayat Alkitab bila dia bangun menyambut hari baru setelah semalaman ditemani cahaya lembut lampu teplok yang menempel di dinding gubuk mereka. Dia ingat alunan kata-kata indah saat orang yang dikasihinya mengaminkan jaminan Tuhan dalam hidup yang sedang mereka jalani. Rasanya hari itu adalah hari dimana Tuhan yang dia cintai berada dekat sekali dengannya bahkan seakan membelai ubun-ubunnya. Dia seolah sedang dipeluk oleh tangan yang kuat tapi penuh kelembutan. Dipeluk oleh janji dan jaminan yang tidak pernah berubah.
Dan ketika orang yang dikasihinya merintih menahan sakit yang dideritanya, hatinya masih teringat akan tangan kuat yang selalu memeluk mereka. Tangan itu pasti masih ada di sini di hidup orang yang dikasihinya dan tetap lembut menjamah, membelai dan memberikan kesejukan. Dia yakin tangan yang penuh kuasa itu tidak pernah beranjak sekalipun hari ini sakit di hidupnya mengurung sangat rapat.
Di telinga orang yang dikasihinya dia berbisik dengan pertanyaan lembut, ”Apakah mama merasa sangat sakit?” Orang yang dikasihinya memalingkan wajah ke arahnya dan tersenyum manis. “Kita selalu berada dalam kesakitan sehingga kesakitan tidak dapat lagi menyakiti kita. Selama ini kesakitan tidak dapat mengubah apapun karena kesakitan dalam hidup kita selalu ada akhirnya. Mungkin selama ini kesakitan telah menjadi sahabat bahkan mungkin telah menjadi diri kita sendiri dan diri kita akan berakhir di dunia tetapi tidak di ruang yang Tuhan sediakan bagi kita.”
Di peluknya orang yang dikasihinya, “Tetapi apakah mama merasakan kesakitan itu saat ini?” Orang yang dikasihinya balas memeluknya, “Kesakitan ini membawa mama kepada Tuhan Yesus yang mengalahkan kesakitan dan mama tidak menyesal. Mama tidak mau beranjak dari sini, karena inilah saatnya menikmati kenikmatan yang Tuhan Yesus janjikan selama hidup mama. Dari sini Mama akan berada dalam kekekalan yang damai tiada tara bersama Tuhan Yesus kita. Dia selalu mengasihi kita. 
Dan dia pun meneteskan airmata. (Thenten)

No comments:

Post a Comment