Ketika mamanya yang adalah
orang yang paling
dikasihi terbaring lemah
dipembaringan karena sakit, rasa di hatinya adalah kesedihan yang menusuk
sangat pahit. Selama 24 tahun dia dicintai dan menerima begitu banyak penerangan
dari bintang-bintang nasehat dan pelajaran tentang kehidupan. Karena cinta yang
ada padanya adalah cinta yang diterimanya dari orang yang telah melahirkan,
membesarkan dan yang mengajarinya melangkahkan kaki di kehidupan yang dia
hidupi sekarang ini.
Masih segar di ingatannya saat orang yang sangat
dicintainya ini membacakan ayat-ayat Alkitab bila dia bangun menyambut hari
baru setelah semalaman ditemani cahaya lembut lampu teplok yang menempel di
dinding gubuk mereka. Dia ingat alunan kata-kata indah saat orang yang
dikasihinya mengaminkan jaminan Tuhan dalam hidup yang sedang mereka jalani.
Rasanya hari itu adalah hari dimana Tuhan yang dia cintai berada dekat sekali
dengannya bahkan seakan membelai ubun-ubunnya. Dia seolah sedang dipeluk oleh tangan
yang kuat tapi penuh kelembutan. Dipeluk oleh janji dan jaminan yang tidak
pernah berubah.
Dan ketika orang yang dikasihinya merintih menahan
sakit yang dideritanya, hatinya masih teringat akan tangan kuat yang selalu
memeluk mereka. Tangan itu pasti masih ada di sini di hidup orang yang
dikasihinya dan tetap lembut menjamah, membelai dan memberikan kesejukan. Dia
yakin tangan yang penuh kuasa itu tidak pernah beranjak sekalipun hari ini
sakit di hidupnya mengurung sangat rapat.
Di telinga orang yang dikasihinya dia berbisik
dengan pertanyaan lembut, ”Apakah mama merasa sangat sakit?” Orang yang
dikasihinya memalingkan wajah ke arahnya dan tersenyum manis. “Kita selalu
berada dalam kesakitan sehingga kesakitan tidak dapat lagi menyakiti kita.
Selama ini kesakitan tidak dapat mengubah apapun karena kesakitan dalam hidup
kita selalu ada akhirnya. Mungkin selama ini kesakitan telah menjadi sahabat
bahkan mungkin telah menjadi diri kita sendiri dan diri kita akan berakhir di
dunia tetapi tidak di ruang yang Tuhan sediakan bagi kita.”
Di peluknya orang yang dikasihinya, “Tetapi apakah
mama merasakan kesakitan itu saat ini?” Orang yang dikasihinya balas
memeluknya, “Kesakitan ini membawa mama kepada Tuhan
Yesus yang mengalahkan kesakitan dan
mama tidak menyesal. Mama tidak mau beranjak dari sini, karena inilah saatnya
menikmati kenikmatan yang Tuhan Yesus janjikan selama hidup mama. Dari sini Mama akan berada dalam kekekalan yang damai tiada tara
bersama Tuhan Yesus kita. Dia selalu mengasihi kita.”
Dan dia pun meneteskan airmata. (Thenten)
No comments:
Post a Comment