Saya anak bungsu dari lima
bersaudara. Pada umur 3 tahun saya telah menatapi dunia tanpa orang ayah yang
telah menghadap Tuhan sebelum saya mengenal dirinya. Banyak kali saya iri melihat teman-teman saya
bermain bersama ayah mereka. Tetapi dibalik itu saya mendapat penghiburan dari
ibu saya karena beliau adalah seorang pelayan Tuhan. Dia sangat patuh pada Tuhannya
dan mengajari saya dan kakak-kakak saya untuk mengandalkan Tuhan dalam segala
hal. Dia begitu bangga memiliki Tuhan Yesus dan selalu mengatakan kepada kami
bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihi kami.
Selain ibu, saya juga
bangga dengan kakak saya yang sulung. Banyak orang mengatakan bahwa kakak saya
sangat mirip dengan ayah saya. Saya senang melihat foto ayah dan membandingkan
dengan kakak saya yang saya anggap adalah pengganti ayah saya. Tetapi ketika
kakak saya beranjak remaja, keadaannya berubah total. Dia suka bergaul dengan
anak-anak yang tidak beres, bahkan dia menjadi pemimpin mereka. Hal ini sangat
menyakiti ibu dan kakak-kakak saya yang lain. Kebanggaan saya terhadap kakak
saya mulai luntur, tetapi ibu saya selalu mendorong saya untuk tetap berdoa
bagi kakak saya.
Pada suatu saat saya
melihat kakak saya berubah dan setiap kali dia berbicara dengan teman-temannya
kata yang selalu terlontar adalah “lahir baru”. Saya sangat ingin memahami apa
artinya, tetapi saya belum cukup mampu mencernanya dengan otak saya karena saat
itu saya baru duduk di kelas 3 SD. Sampai pada suatu hari teman-teman kakak
saya mengadakan pelayanan bagi anak-anak yang mereka namakan Pelayanan Pondok
Gembira. Saya senang sekali karena mereka menceritakan Kasih Tuhan Yesus kepada
orang berdosa dengan menggunakan alat peraga yang menarik.
Pelayanan ini membuat saya mengerti apa artinya
lahir baru yang sering dikatakan kakak saya dan teman-temannya. Saya mengetahui
bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat dari ibu saya, tetapi saya meyakini akan
keselamatan kekal di dalam Tuhan Yesus justru pada saat saya mengikuti Pondok
Gembira.
Saat saya duduk di bangku SLTP saya mengajak
teman-teman sebaya saya melayani Tuhan melalui Pondok Gembira. Saya rindu
anak-anak kecil juga mengalami seperti apa yang sudah saya alami. Saya menyadari
kebesaran Tuhan yang telah memanggil ayah saya dan meninggalkan ibu saya agar
Dia menjadi ayah saya yang sempurna. Tuhan sangat baik, bukan karena saya telah
mendengarnya tetapi karena saya telah mengalaminya.
Sampai hari ini saya telah bertekad dalam
keterbatasan saya bahwa sisa hidup akan saya gunakan melayani Tuhan karena saya
telah dilayani. Saya ingin menjadi seperti teman-teman kakak saya yang telah
membentuk pelayanan untuk anak-anak dan yang telah membuat saya berhutang
kepada mereka.(Anita)
No comments:
Post a Comment