Thursday, June 12, 2014

Melayani Karena Telah Dilayani



            Saya anak bungsu dari lima bersaudara. Pada umur 3 tahun saya telah menatapi dunia tanpa orang ayah yang telah menghadap Tuhan sebelum saya mengenal dirinya. Banyak kali       saya iri melihat teman-teman saya bermain bersama ayah mereka. Tetapi dibalik itu saya mendapat penghiburan dari ibu saya karena beliau adalah seorang pelayan Tuhan. Dia sangat patuh pada Tuhannya dan mengajari saya dan kakak-kakak saya untuk mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Dia begitu bangga memiliki Tuhan Yesus dan selalu mengatakan kepada kami bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihi kami.
            Selain ibu, saya juga bangga dengan kakak saya yang sulung. Banyak orang mengatakan bahwa kakak saya sangat mirip dengan ayah saya. Saya senang melihat foto ayah dan membandingkan dengan kakak saya yang saya anggap adalah pengganti ayah saya. Tetapi ketika kakak saya beranjak remaja, keadaannya berubah total. Dia suka bergaul dengan anak-anak yang tidak beres, bahkan dia menjadi pemimpin mereka. Hal ini sangat menyakiti ibu dan kakak-kakak saya yang lain. Kebanggaan saya terhadap kakak saya mulai luntur, tetapi ibu saya selalu mendorong saya untuk tetap berdoa bagi kakak saya.
            Pada suatu saat saya melihat kakak saya berubah dan setiap kali dia berbicara dengan teman-temannya kata yang selalu terlontar adalah “lahir baru”. Saya sangat ingin memahami apa artinya, tetapi saya belum cukup mampu mencernanya dengan otak saya karena saat itu saya baru duduk di kelas 3 SD. Sampai pada suatu hari teman-teman kakak saya mengadakan pelayanan bagi anak-anak yang mereka namakan Pelayanan Pondok Gembira. Saya senang sekali karena mereka menceritakan Kasih Tuhan Yesus kepada orang berdosa dengan menggunakan alat peraga yang menarik.
Pelayanan ini membuat saya mengerti apa artinya lahir baru yang sering dikatakan kakak saya dan teman-temannya. Saya mengetahui bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat dari ibu saya, tetapi saya meyakini akan keselamatan kekal di dalam Tuhan Yesus justru pada saat saya mengikuti Pondok Gembira.
Saat saya duduk di bangku SLTP saya mengajak teman-teman sebaya saya melayani Tuhan melalui Pondok Gembira. Saya rindu anak-anak kecil juga mengalami seperti apa yang sudah saya alami. Saya menyadari kebesaran Tuhan yang telah memanggil ayah saya dan meninggalkan ibu saya agar Dia menjadi ayah saya yang sempurna. Tuhan sangat baik, bukan karena saya telah mendengarnya tetapi karena saya telah mengalaminya.
Sampai hari ini saya telah bertekad dalam keterbatasan saya bahwa sisa hidup akan saya gunakan melayani Tuhan karena saya telah dilayani. Saya ingin menjadi seperti teman-teman kakak saya yang telah membentuk pelayanan untuk anak-anak dan yang telah membuat saya berhutang kepada mereka.(Anita)

No comments:

Post a Comment