Sejak kecil dia selalu malas mengeluarkan suara
untuk bicara sesuatu yang dia anggap tidak perlu atau untuk sesuatu yang
dirasanya orang lain sudah mengetahuinya. Dia memang pendiam tetapi dia selalu
tersenyum kepada siapa saja walaupun dengan sikap malu-malu. Sifatnya selalu
menjadikan
dia sebagai pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya.
Ketika ibunya tetrbaring
sakit, seperti biasanya dia kelihatan tenang dan tidak banyak bicara.
Dipandanginya ibunya seakan tanpa berkedip sambil sesekali membelai jemari
ibunya yang keriput dimakan usia. Dadanya yang bidang terlihat kuat membungkus
hatinya yang susah ditangkap artinya. Dia memang kuat melawan tekanan fisik dan
rasanya belum pernah dia mengeluarkan rintihan atau keluhan sehingga pada saat ini
tidak ada orang yang akan mengira dia terluka. Orang-orang disekitarnya
berpikir bahwa kalaupun dia terluka dia pasti akan mampu mengatasinya.
Saat ibunya menatapnya dan
seolah berkata, “Ibu sakit...apakah engkau merasakannya?” Dia membuang muka,
tak berani beradu pandang dengan ibunya. Tak lama kemudian dia beringsut ke
arah kaki ibunya, membuang nafas sarat dan berat. Matanya memerah tetapi tidak
menangis. Memang sejak kecil jika dia menangis, dia akan dengan segera
menghapus airmatanya. Sepertinya dia tidak rela pipinya disentuh airmata.
Baginya airmata cukup dimata saja tidak perlu mengalir ke tempat lain.
Saudara-saudaranya yang
melihat ibunya sekarat, tak digubrisnya. Tak pernah dia menyapa mereka yang
sama-sama sedih melihat ibu mereka. Dia tetap dengan dunianya sendiri,
menghitung duka atau menata perasaan yang berkecamuk di dalam batinnya sendiri.
Kalaupun dia disapa, dia hanya diam tanpa ekspresi. Di sinilah orang tahu bahwa
sebenarnya dia gundah, dia sedih, dia sepi di antara orang-orang yang
dikasihinya.
Saat nafas ibunya melemah
dan makin lemah, dia mendekat memeluk ibunya dengan cintanya. Rasanya dia ingin
memberikan kekuatan kepada ibunya. Rasanya dia ingin ibunya bangkit membalas
pelukannya, tetapi semuanya tidak terjadi. Ibunya sekarat dipelukannya dan
saudara-saudaranya. Lalu ibunya diam dalam damai, tidak ada lagi kehidupan
sementara. Ibunya telah beralih ke dalam kehidupan kekal yang hanya dapat
dinikmati oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesusnya.
Tiba-tiba dia berdiri,
wajahnya dipenuhi rasa sakit dan airmata. Dia menangis. Ternyata dia tidak
dapat menahan sakit ketika sang ibu melangkah ke kekekalan. Ternyata dia tidak
dapat ditinggalkan oleh orang yang telah membawanya ke dalam dunia. Dia
hanyalah seonggok otot yang kekar tetapi bukan seonggok kekuatan berpisah
dengan orang yang telah mengajarinya kasih Tuhan. Dia hanyalah seorang anak
yang berduka ditinggal sang ibu (Thenten).
No comments:
Post a Comment