Thursday, June 12, 2014

Ternyata Dia Menangis Juga



        Sejak kecil dia selalu malas mengeluarkan suara untuk bicara sesuatu yang dia anggap tidak perlu atau untuk sesuatu yang dirasanya orang lain sudah mengetahuinya. Dia memang pendiam tetapi dia selalu tersenyum kepada siapa saja walaupun dengan sikap malu-malu. Sifatnya selalu menjadikan dia sebagai pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya.
            Ketika ibunya tetrbaring sakit, seperti biasanya dia kelihatan tenang dan tidak banyak bicara. Dipandanginya ibunya seakan tanpa berkedip sambil sesekali membelai jemari ibunya yang keriput dimakan usia. Dadanya yang bidang terlihat kuat membungkus hatinya yang susah ditangkap artinya. Dia memang kuat melawan tekanan fisik dan rasanya belum pernah dia mengeluarkan rintihan atau keluhan sehingga pada saat ini tidak ada orang yang akan mengira dia terluka. Orang-orang disekitarnya berpikir bahwa kalaupun dia terluka dia pasti akan mampu mengatasinya.
            Saat ibunya menatapnya dan seolah berkata, “Ibu sakit...apakah engkau merasakannya?” Dia membuang muka, tak berani beradu pandang dengan ibunya. Tak lama kemudian dia beringsut ke arah kaki ibunya, membuang nafas sarat dan berat. Matanya memerah tetapi tidak menangis. Memang sejak kecil jika dia menangis, dia akan dengan segera menghapus airmatanya. Sepertinya dia tidak rela pipinya disentuh airmata. Baginya airmata cukup dimata saja tidak perlu mengalir ke tempat lain.
            Saudara-saudaranya yang melihat ibunya sekarat, tak digubrisnya. Tak pernah dia menyapa mereka yang sama-sama sedih melihat ibu mereka. Dia tetap dengan dunianya sendiri, menghitung duka atau menata perasaan yang berkecamuk di dalam batinnya sendiri. Kalaupun dia disapa, dia hanya diam tanpa ekspresi. Di sinilah orang tahu bahwa sebenarnya dia gundah, dia sedih, dia sepi di antara orang-orang yang dikasihinya.
            Saat nafas ibunya melemah dan makin lemah, dia mendekat memeluk ibunya dengan cintanya. Rasanya dia ingin memberikan kekuatan kepada ibunya. Rasanya dia ingin ibunya bangkit membalas pelukannya, tetapi semuanya tidak terjadi. Ibunya sekarat dipelukannya dan saudara-saudaranya. Lalu ibunya diam dalam damai, tidak ada lagi kehidupan sementara. Ibunya telah beralih ke dalam kehidupan kekal yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesusnya.
            Tiba-tiba dia berdiri, wajahnya dipenuhi rasa sakit dan airmata. Dia menangis. Ternyata dia tidak dapat menahan sakit ketika sang ibu melangkah ke kekekalan. Ternyata dia tidak dapat ditinggalkan oleh orang yang telah membawanya ke dalam dunia. Dia hanyalah seonggok otot yang kekar tetapi bukan seonggok kekuatan berpisah dengan orang yang telah mengajarinya kasih Tuhan. Dia hanyalah seorang anak yang berduka ditinggal sang ibu (Thenten).

No comments:

Post a Comment